UJI RELIABILITAS KUESIONER

Posted by ReTRo on Friday, July 22, 2011

Dr. Suparyanto, M.Kes

UJI RELIABILITAS KUESIONER

  • Reliabilitas (keandalan) merupakan ukuran suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan konstruk-konstruk pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan disusun dalam suatu bentuk kuesioner.
  • Uji reliabilitas dapat dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh butir pertanyaan untuk lebih dari satu variabel, reliabilitas suatu variabel dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbach’s Alpha > dari 0,60 (Pratisto, 2009).
  • Reliabilitas data dapat diukur dengan teknik belah dua atau rumus Spearman Brown:














(Hidayat, 2009)
  • Analisis keputusan, apabila r11 >  r-tabel berarti reliabel dan apabila r11< r-tabel tidak reliabel yang di hitung pada derajat kebebasan dk= n-2 dan α= 0,05. Setelah kuesioner di uji reliabilitas dengan menggunakan program SPSS 10 For Windows. Analisis keputusan, apabila r11 > r-tabel berarti reliabel dan apabila r11< rtabel tidak reliabel yang di hitung pada derajat kebebasan dk= n-2 dan α= 0,05. (Hidayat, 2008).
More aboutUJI RELIABILITAS KUESIONER

UJI VALIDITAS KUESIONER

Posted by ReTRo

Dr. Suparyanto, M.Kes

UJI VALIDITAS KUESIONER

  • Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Pratisto, 2009).
  • Mengukur tingkat validitas dapat dilakukan dengan cara:
  1. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung (hasil uji validitas) dengan nilai r tabel (nilai tabel) dengan nilai signifikansi 0,05. Hasil uji validitas (nilai r hitung) yang merupakan nilai dari Corrected Item-Total Corelation.
  2. Dapat juga menggunakan rumus person products moment:















Kemudian menghitung nilai uji T dengan rumus:















(Hidayat, 2008)

  • Setelah kuesioner di uji validitas dengan menggunakan program SPSS 10 For Windows. Jika Thit > Ttabel berarti instrumen valid demikian sebaliknya jika Thit < Ttabel berarti instrumen tidak valid yang tentunya tidak dapat digunakan dan dapat diperbaiki/ dihilangkan.
More aboutUJI VALIDITAS KUESIONER

PERKEMBANGAN BALITA, PROSES DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Posted by ReTRo on Thursday, July 21, 2011

Dr. Suparyanto, M.Kes

PERKEMBANGAN BALITA, PROSES DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

DEFINISI PERKEMBANGAN
  • Perkembangan (development) adalah pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan, yang berlanjut sepanjang rentang hidup (Santrock, 2007).
  • Perkembangan (development) adalah peningkatan kemampuan dalam hal struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks (Heru.S, 2009).
  • Perkembangan ialah pola gerakan atau perubahan yang berlangsung sepanjang semasa hidup, dan dipengaruhi oleh proses-proses biologis, kognitif, dan sosialemosional yang saling mempengaruhi (Santrock, 2002).
  • Perkembangan merupakan hal yang terartur dan mengikuti rangkaian tertentu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola yang konsisten dan kronologis (Potter & Perry, 2005).

FAKTOR –FAKTOR PERKEMBANGAN
  • Menurut Soetjiningsih, secara umum faktor yang berpengaruh pada perkembangan adalah sebagai berikut :
a. Genetic
  • Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui intruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, dan suku.
b. Faktor lingkungan pada waktu masih di dalam kandungan (faktor prenatal).
  • Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain:
1. Gizi ibu pada waktu hamil
  • Gizi ibu hamil yang jelek sebelim terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menyebabkan bayi BBLR (berat badan lahir rendah) atau lahir mati dan jarang menyebabkan cacat bawaan. Disamping itu dapat pula menyebabkan hambatan pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, mudah terkena infeksi, abortus, dan sebagainya.
2. Factor mekanis
  • Trauma dan cairan air ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan. Demikian pula pada posisi janin pada uterus dapat mengakibatkan talipes, dislokasi panggul, tortikolis congenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.
3. Toksin atau zat kimia
  • Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatan seperti thalidomide, phenitoin, methadion, obat-obat anti kanker. Demikian pula dengan ibu hamil yang perokok berat atau peminum alcohol kronis dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya.
4. Endokrin
  • Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin adalah somamotropin, hormon plasenta, hormon tiroid, insulin dan peptide-peptida lain dengan aktivitas mirip insulin. Cacat bawaan sering terjadi pada ibu diabetes yang tidak mendapat pengobatan, umur ibu kurang dari 18 tahun/lebih dari 35 tahun, defesiensi yodium pada waktu hamil.
5. Radiasi
  • Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya. Sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki dapat mengakibatkan cacat bawaan pada anaknya.
6. Infeksi
  • Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH (Toxoplasmosis. Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex). Sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, lues, HIV, polio, campak, dan virus hepatitis.
7. Stress
  • Stress yang dialami ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.
8. Imunitas
  • Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.
9. Anoksia embrio
  • Menurunnya oksigenjanin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan berat badan lahir rendah.

c. Faktor lingkungan setelah lahir (faktor postnatal)
  • Lingkungan postnatal dapat digolongkan menjadi :
1. Lingkungan biologis, meliputi:
  1. Ras: Pertumbuhan somatic juga dipengaaruhi oleh ras/suku bangsa.
  2. Jenis kelamin: Dikatakan anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan anak perempuan tetapi belum diketahui secara pasti penyebabnya.
  3. Umur: Umur yang paling rawan adalah masa balita, oleh karena itu masa itu anak mudah sakit dan mudah terkena kurang gizi. Disamping itu masa balita merupakan dasar pembentukan kepribadian anak.
  4. Gizi: Makanan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak berebeda dengan orang dewasa karena makanan bagi anak dibutuhkan juga untuk pertumbuhan dimana pengaruhi oleh ketahanan makanan keluarga.
  5. Perawatan kesehatan: Perawatan kesehatan yang teratur dan menimbang anak secara rutin setiap bulan akan menunjang tumbuh kembang anak.
  6. Kepekaan terhadap penyakit: Dengan memberikan imunisasi maka diharapkan anak terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menyebabkan cacat atau kematian.
  7. Penyakit kronis: Anak yang mengalami penyakit menahun akan terganggu perkembangan, dan pendidikannya, disamping itu anak menjadi mudah stress akan penyakitnya.
  8. Fungsi metabolisme: Karena danya perbedaan yang mendasar pada proses metabolisme pada berbagai umur maka kebutuhan akan berbagai nutrien harus didasarkan perhitungan yang tepat.
  9. Hormon: Hormone yang berpengaruh pada tumbuh kembang natara lain adalah somamotropin, tiroid, hormone seks, insulin dan hormone yang dihasilkan kelenjar adrenal.

2.Faktor fisik, meliputi :

a. Cuaca
  • Musim kemarau yang panjang dapat berdampak pada tumbuh kembang anak akibat gagalnya panen banyak anak menderita kurang gizi.
b. Sanitasi
  • Sanitasi lingkungan memiliki peran cukup dominan dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak dan tumbuh kembangnya. Kebersihan diri dan lingkungan yang kurang akan menyebabkan anak mudah sakit
c. Keadaan rumah
  • Struktur bangunan, ventilasi, cahaya, dan kepadatan hunian
d. Radiasi
  • Tumbuh kembang anak dapat terganggu karena danya radiasi tinggi.

3. Faktor psikososial, meliputi:

a. Stimulasi
  • Merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulus teratur lebih cepat berkembang dari pada yang kurang/tidak mendapat stimulus.
b. Motivasi belajar
  • Motivasi belajar dapat ditumbulkan secaraa dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar misalnya lingkungan sekolah yang tidak terlalu jauh, suasana yang menyenangkan.
c. Ganjaran atau hukuman yang wajar
  • Ganjaran akan menimbulkan motivasi yang besar dan kuat bagi anak untuk mengulangi tingkah lakunya jadi jika anak berbuat benar berilah ganjaran sepeerti pujian, ciuman, atau tepuk tangan.
d. Kelompok sebaya
  • Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya. Tetapi perhatian orang tua tetap dibutuhkan untuk memantau dengan siapa anak bergaul.
e. Stress
  • Stress juga dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak misalnya akan menari diri, rendah diri, terlambat bicara, dan nafsu makan menurun
f. Sekolah
  • Dengan adanya program pemerintah yang memikirkan perkembangan anak sejak dini dengan mulai digalakkannya pendidikan anak usia dini maka, diharapkan generasi penerus akan lebih baik lagi
g. Cinta dan kasih saying
  • Salah satu hak anak adalah untuk dicintai dan dilindungi. Anak memerlukan kasih sayang dan perlakuan adil dari orang tuanya.
h. Kualitas interaksi anak-orang tua.
  • Interaksi timbal balik antara orang tua dan anak akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Anak akan terbuka dengan kedua orang tuanya sehingga komunikasi dua arah bisa berlangsung optimal.

4. Faktor keluarga dan adat istiadat, meliputi:

a. Pekerjaan atau pendapatan keluarga
  • Yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhhan anak baik primer ataau sekunder
b. Pendidikan orang tua
  • Dengan pendidikan orang tua yang baik maka orang tua dapaat menerima segela informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan, dan pendidikannya
c. Jumlah saudara
  • Jumlah anak yang banyak pada keluaraga dengan social ekonomi cukup akan mengkibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak
d. Jenis kelamin dalam keluarga
  • Pada masyrakat tradisional wanita mempunyai status yang lebih rendah disbanding laki-laki sehingga angka kematian bayi, dan malnutrisi masih tinggi pada wanita.
e. Stabilitas rumah tangga
  • Stabilitas dan keharmonisan rumah tangga mempengruhi tumbuh kembang anak. Tumbuh kembang anak akan berbeda pada keluarga yang harmonis dibandingkan dengan mereka yang kurang harmonis.
f. Kepribadian orang tua
  • Kepribadian ayah dan ibu yang terbuka tentu akan mempengaruhi pola tumbuh kembang anak
g. Adat-istiadat
  • Adat istiadat yang berlaku ditiap daerah akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Demikian pula dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat
h. Agama
  • Pengajaran agama harus suadah ditanamkan pada anak sedini mungkin, karena dengan pengetahuan agama yang baik akanmenuntun anak untuk berbuat kebaikan dan kebajikan.
i. Urbanisasi dan kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak dan anggaran.

PROSES PERKEMBANGAN
  • Pola perkembangan manusia dihasilkan oleh hubungan dari beberapa proses biologis, kognitif, dan sosioemosional.
a. Proses Biologis
  • Meliputi perubahan pada sifat fisik individu. Plasma pembawa sifat keturunan (genes) diwarisi dari orang tua, perkembangan otak, pertambahan tinggi dan berat, perubahan pada keterampilan motorik, perubahan hormon pubertas, dan penurunan jantung semuanya mencerminkan peran prose biologis dalam perkembangan.
b. Proses Kognitif
  • Meliputi perubahan pada pemikiran, intelegensi, dan bahasa individu. Memandang benda berwarna yang berayun-ayun diatas tempat tidur bayi, merangkai satu kalimat yang terdiri ats dua kata, menghafal syair, dan memecahkan suatu teka-teki silang semuanya mencerminkan peran proses kognitif dalam perkembangan.
c. Proses sosioemosional
  • Meliputi perubahan pada relasi individu dengan orang lain, perubahan pada emosi, dan perubahan pada kepribadian. Senyum seorang bayi dalam merespons sentuhan ibunya, serangann agresif seorang anak laki-laki kecil terhadap teman mainnya, kegembiraan seorang remaja atas pesta dansa semuanya mencerminkan peran proses sosioemosional dalam perkembangan (Santrock, 2007)

PERIODE PERKEMBANGAN
  • Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut :
a. Periode prakelahiran (prenatal period)
  • Periode dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku yang dihasilkan kira-kira dalam periode 9 bulan.
b. Masa bayi (Infancy)
  • Periode perkembangan yang terentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah suatu masa yang sangat tergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis hanyalah permulaan misalnya bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor dan belajar social.
c. Masa awal anak-anak (early childhood)
  • Periode perkembangan yang terentang dari akhir masa bayi hingga usia kira-kira 5 atau 6 tahun, periode ini kadang-kadang disebut “tahun-tahun prasekolah”. Selama masa ini anak-anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam-jam bermain dengan teman sebaya. Kelas satu secara umum menandai akhir akhir masa akhir masa awal anak-anak.
d. Masa pertengahan dan akhir anak-anak (middle end late childhood)
  • Periode perkembangan yang terentang dari usia kira-kira 6 hingga 11 tahun yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar. Keterampilan-keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaanya. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.
e. Masa remaja (adolescence)
  • Periode perkembangan transisi dari masa anak-anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10-12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Masa remaja bermula dengan perubahan fisik yang cepat, pertambahan tinggi dan berat badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan pinggang dan dalamnya suara. Pada masa perkembangan ini pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol, pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis dan semakin banyak waktu diluangkan diluar rumah.
f. Masa awal dewasa (early adulthood)
  • Periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan berakhir pada usia tigapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandiran pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak.
g. Masa pertengahan dewasa (Middle adulthood)
  • Periode perkembangan yang bermula pada usia kira-kira 35 hingga 45 tahun dan terentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan social, membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasaan dalam karir seseorang
h. Masa akhir dewasa (late adulthood)
  • Periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuhpuluhan tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan. (Santrock, 2007)

TEORI PERKEMBANGAN MASA
  • Perkembangan anak merupakan topic yang rumit dan memiliki banyak aspek. Tidak ada satu teori pun yang dapat menjelaskan seluruh aspek perkembangan anak. Tiap teori menyumbang satu keping penting bagi perkembangan anak. Lima perspektif teoritis dalam perkembangan:
a. Teori Psikoanalisis
  • Menggambarkan perkembangan sebagai sesuatu yang biasanya tidak disadari (diluar kesadaran) dan diwarnai oleh emosi. Ahli teori psikoanalisis juga menekankan bahwa pengalaman dini dengan orang tua secara signifikan membentuk perkembangan. Karakteristik ini ditekankan dalam teori psikoanalisis dari Sigmund Freud. Freud menyatakan bahwa manusia melalui lima tahap perkembangan, tiga perkembangan dimasa anak-anak :
  1. Tahap oral, terjadi selama 18 bulan pertama kehidupan dimana kesenangan bayi terpusat disekitar mulut
  2. Tahap anal terjadi antara umur 1,5 tahun dan 3 tahun dimana kesenangan terbesar anak melibatkan anus atau fungsi pembuangan yang dihubungkan dengannya
  3. Tahap phallic terjadi anatar umur 3 hingga 6 tahun kesenangan berfokus pada alat kelamin saat anak laki-laki dan perempuan menyadari bahwa manipulasi diri itu menyenangkan.
  4. Tahap latency yang terjadi antara sekitar usia 6 tahun hingga masa puber. Selama masa ini anak menekan keinginan seksual dan mengembangkan keterampilan social dan intelektual.
  5. Tahap genital yang terjadi mulai masa puber dan seterusnya. Tahap genital adalah saat kebangkitan seksual, sumber kesenangan seksual menjadi seseorang diluar keluarga.

  • Dalam teori Erikson terdapat delapan tahap perkembangan sepanjang hidup manusia, dan tiga tahap perkembangan dimasa awal anak-anak yaitu :
  1. Kepercayaan versus ketidakpercayaan dialami pada tahun pertama kehidupan. Rasa percaya melibatkan rasa nyaman secara fisik dan tidak ada rasa takut atau kecemasan akan masa depan.
  2. Otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu, tahap ini terjadi pada masa bayi akhir dan masa awal kanak-kanak (1-3 tahun). Mereka mulai menyatakkan kemandirian mereka, dan menyadari keinginan mereka. Jika anak terlalu dibatasi atau dihukum dengan keras, mereka mungkin memunculkan rasa malu dan ragu-ragu.
  3. Inisiatif versus rasa bersalah terrjadi selama tahun prasekolah. Begitu anak prasekolah memasuki dunia social yang lebih luas mereka menghadapi lebih banyak tantangan dan anak diminta untuk memikirkan tanggung jawab. Mengembangkan rasa tanggung jawab meningkatkan inisiatif. Meskipun demikian rasa bersalah yang tidak nyaman dapat muncul, jika anak tidak bertanggung jawab.
  4. Kerja keras versus rasa inferior terjadi sekitar tahun sekolah dasar. Inisiatif anak membawa mereka berhubungan dengan banyak pengalaman baru. Diwaktu yang sama pula anak menjadi lebih antusias mengenai belajar dibandingkan dengan akhir periode anak-anak yang penuh imajinasi.
  5. Identitas versus kebingungan identitas yang dialami selama masa remaja. Pada masa ini individu dihadapkan pada penemuan diri, tentang siapa diri mereka sebenarnya dan kemana mereka akan melangkah dalam hidup ini.
  6. Keintiman versus isolasi yang dialami seseorang selama masa dewasa awal. Pada masa ini individu menghadapi tugas perkembangan yaitu membentuk hubungan dengan orang lain. Jika para dewasa muda membentuk persahabatan yang sehat dan hubungan akrab dengan orang lain keintiman akan tercapai jika tidak adalah isolasi diri.
  7. Generativitas versus stagnasi yang dialami seseorang pada masa dewasa tengah. Pada tahap ini kepedulian utamanya adalah membantu generasi yang lebih muda dalam mengembangkan dan mengarahakan kehidupan menjadi berguna.
  8. Integritas versus kepuasan yang dialami seseorang pada masa dewasa akhir. Dalam tahap ini seseorang bercermin pada masa lalu dan menyimpulkan bahwa ia telah menjalani hidup dengan baik, atau sebaliknya.

b. Teori Kognitif
  • Teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa anak secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Piaget juga percaya bahwa kita melalui emapat tahap dalam memahami dunia, dan dua diantaranya dimasa anak-anak.
  1. Tahap sensorimotor yang berlangsung mulai dari lahir hingga usia 2 tahun dan merupakan tahap perkembangan pertama Piaget. Dalam tahap ini, anak membangun pemahaman mengenai dunia ini dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris dengan tindakan fisik dan motorik.
  2. Tahap praoperasional berlangsung sekitar usia 2 hingga 7 tahun, pada tahap ini anak menjelaskan dunia dengan kata-kata, gambar, dan lukisan. Kata-kata dan gambar ini mencerminkan meningkatkan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensoris dan tindakan fisik.
  3. Tahap operasional konkrit yang berlangsung mulai dari sekitar 7 hingga 11 tahun. Dalam tahap ini anak dapat melakukan operasi dan penalaran logis menggantikan pikiran intuitif selama penalaran dapat diterapkan.
  4. Tahap operasional formal yang muncul antara 11 hingga 15 tahun. Pada tahap ini individu lebih melampaui pengalaman konkret dan berpikir dalam istilah yang abstrak dan lebih logis. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi didepan. Dalam memecahkan masalah mereka lebih sistematis.

c. Teori Perilaku dan Sosial-Kognitif
  • Merupakan jenis teori perilaku yang mempertimbangkan pikiran seseorang. Teori tersebut menyatakan bahwa perilaku, lingkungan, dan orang/kognisi merupakan factor penting dalam perkembangan.

d. Teori Etologi
  • Teori etologi ini memandang bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi dan evolusi. Teori ini juga menekankan bahwa kepekaan kita terhadap jenis pengalaman yang beragam berubah sepanjang rentang kehidupan. Dengan kata lain, ada periode kritis atau sensitive bagi beberapa pengalaman. Jika kita gagal mendapat pengalaman selama periode sensitive tersebut.

e. Teori Ekologis
  • Merupakan pandangan Bronfenbrenner bahwa perkembangan dipengaruhi oleh sistem lingkungan, berkisar dari lima konteks kasar mengenai interaksi langsung dengan orang-orang hingga konteks budaya berdasar luas. Lima sistem dalam teori Bronfenbrenner yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronisistem.

DAFTAR PUSTAKA


  1. Adallila, S. 2010. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini. http://sadidadallila.wordpress.com (diakses 17 Mei 2011)
  2. Ahmad, Rofiq. 2008. Perkembangan Menurut DDST II. http://rofiqahmadwordpress.com (diakses 18 Mei 2011)
  3. Alimul, Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta
  4. Arikunto. S, 2003. Prosuder Penelitian. Rineka: Jakarta
  5. Aspi, J. 2010. Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia dan Target Capaian PAUD. http://www.tunasbangsaku-tk/. (diakses 9 Mei 2011)
  6. Dirjen PNFI. 2009. Depdiknas Siapkan Standarisasi PAUD. http://www.aspijatim.blogspot.com (diakses 9 Mei 2011)
  7. Fakhruddin, A.U. 2010. Sukses menjadi Guru TK-PAUD. Bening. Yogyakarta
  8. Hasan, M. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Diva Press. Yogyakarta
  9. Hasan, Iqbal. 2010. Analisa Data Penelitian Dengan Statistik. Bumi Aksara: Bandung
  10. Kharimaturrohmah. 2009. Laporan UNESCO Mengenai Pendidikan Untuk Semua. http://www.fpaudi.org/index. (diakses 17 Mei 2011)
  11. Nursalam, 2003. Konsep Ilmu Keperawatan Pedoman Skirpsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta
  12. Notoatmojo, S. 2005. Prosuder Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta
  13. Potter & Perry, 2005. Perkembangan Anak. EGC: Jakarta
  14. Santoso, Heru. 2009. Petunjuk Praktis Denver Developmental Screening Test. EGC: Jakarta
  15. Santrock, J.W. 2002. A Tropical Approuch to Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. Boston, Mc. Graw Hill
  16. Santrock, J. W. 2007. Perkembangan Anak. Boston, Mc. Graw Hill
  17. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. EGC: Jakarta
  18. Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung
  19. Suyanto. 2009. Riset Kebidanan. Mitra Cendika Press: Yogyakarta
  20. Dosen Prodi STIKES Aisyiyah Yogyakarta. 2009. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan. STIKESAYO: Yogyakarta


More aboutPERKEMBANGAN BALITA, PROSES DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

PERKEMBANGAN ANAK PRASEKOLAH

Posted by ReTRo

Dr. Suparyanto, M.Kes

PERKEMBANGAN ANAK PRASEKOLAH

  • Beberapa aspek perkembangan yang dialami pada masa prasekolah pada umunya merupakan lanjutan dari perkembangan yang telah ada sejak bayi. Adapun aspek perkembangan sebagai berikut:

PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
  • Perkembangan gerak motorik anak sendiri, sebagaimana dibedahkan Elizabeth B. Hurlock, seorang psikolog perkembangan dan pemerhati masalah anak merupakan perkembangan pergerakan jasmaniah melalui kegiatan saraf, urat, dan oto yang terkoordinasi. Aspek atau gerak motorik kasar, merupakan gerak anggota badan secara kasar, atau setidaknya dilakukan dengan gerakan-gerakan yang agak keras. Misalnya berjalan, naik turun tangga, melempar, dan menangkap bola yang disodorkan kepadanya.
  • Saat berusia 3 tahun, anak menikmati gerakan sederhana, seperti loncat-loncatan, melompat, dan lari kesana-kemari hanya demi kesenangan murni melakukan aktivitas tersebut. Aktivitas berlari-melompat ini tidak akan mendapat medali, tetapi bagi anak berusia 3 tahun, aktivitas tersebut merupakan sumber kebanggaan.
  • Saat berusia 4 tahun, anak masih menikmati aktivitas yang sama, tetapi mereka menjadi lebih suka berpetualang. Mereka memanjat dengan tangkas dan menunjukkan kemampuan atletis mereka yang luar biasa. Meskipun mereka sudah lama mampu memanjat tangga dengan satu kaki disetiap anak tangga, mereka baru mampu menuruni tangga dengan cara yang sama.
  • Di usia 5 tahun, anak semakin menyukai petualangan dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Bukanlah hal yang luar biasa bagi anak umur 5 tahun yang percaya diri untuk melakukan adegan yang menakutkan, mereka berlari cepat dan menyenangi balapan satu sama lain dan dengan orang tua.

PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS
  • Adapun perkembangan gerak motorik halus sendiri adalah meningkatnya pengoordinasian gerak tubuh yang melibatkan kelompok otot dan saraf yang lebih kecil. Keterampilan motorik halus melibatkan gerakan yang diatur secara halus. Kelompok otot dan saraf inilah yang nantinya mampu mengembangkan gerak motorik halus seperti merobek, menggambar, dan menulis.
  • Pada usia 3 tahun, anak telah memiliki kemampuan untuk mengambil objek terkecil diantara ibu jari dan telunjuk untuk beberapa waktu. Di usia ini anak dapat membangun menara balok yang tinggi, selain itu mereka mulai dapat bermain dengan gambar bongkar pasang sederhana dan memasangkannya ditempat yang kososng dengan menekannya dengan kuat.
  • Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak lebih tepat. Kadang anak berumur 4 tahun bermasalah dalam membangun menara tinggi dengan balok karena, dengan keinginan mereka untuk meletakkan setiap balok dengan sempurna, mereka membongkar lagi balok yang sudah tersusun.
  • Saat berusia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak semakin meningkat. Tangan, lengan, dan jari semua bergerak bersama dibawah perintah mata. Menara sederhana tidak lagi menarik minat anak, yang sekarang ingin membangun sebuah rumah atau gereja, lengkap dengan menaranya.

BAHASA
  • Bahasa adalah suatu sistem simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pada manusia bahasa ditandai oleh daya cipta yang tidak pernah habis dan adanya suatu sistem aturan. Bahasa terdiri dari kata-kata yang digunakan oleh masyarakat beserta aturan-aturan untuk menyusun berbagai variasi dan mengkombinasikannya. (Santrock, 2007)
  • Bahasa ditata dan diorganisasikan dengan sangat baik (Berko Gleason, 2005). Organisasi tersebut melibatkan lima sistem aturan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik.
  • Perubahan-perubahan dalam paragmatik juga mencirikan perkembangan bahasa anak-anak yang belia ini (Brayant, 2005). Perkembangan-perkembangan paragmatik yang terjadi selama tahun-tahun prasekolah sebagai berikut :
  • Pada usia 3 tahun, anak-anak mengembangkan kemampuan untuk berbicara tentang hal-hal yang secara fisik tidak ada, mereka mengembangkan penguasaan mereka atas aspek bahasa, yang dikenal sebagai pemindahan (displacement), dan menghidupkan imajinasi mereka.
  • Anak-anak usia 4-5 tahun mengembangkan kepekaan besar terhadap kebutuhan orang lain dalam percakapan dengan mengubah pola percakapan mereka sesuai situasi. Mereka mebedakan cara berbicara antara dengan teman sebaya dan dengan orang yang lebih dewasa, dengan menggunakan bahasa formal dan lebih sopan.
  • Suatu ringkasan tentang tonggak sejarah perkembangan dalam bahasa diklasifikasikan oleh Roger Browm (1973) sebagai berikut :
  • Tahap usia 35-40 bulan atau sekitar 3-4 tahun memiliki karakteristik yang mana anak mampu untuk meletakkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, seperti “Ini mobil yang ibu beli untukku”.
  • Tahap usia 41-46 bulan atau sekitar 4-5 tahun, jumlah rata-rata per kalimat adalah 3,75-4,50 dan sudah mampu mengoordinasikan antara kalimat-kalimat sederhana dan hubungan-hubungan proporsional, seperti “Jerry dan Cindy itu saudara”.

SOCIAL DAN MORAL
  • Perkembangan dalam aspek moral adalah perubahan-perubahan yang dialami seseorang menuju tingkat kedewasaan yang berlangsung yang menyangkut pertambahan pengetahuan seorang anak mengenai baik dan buruk. Perkembangan moral seseorang berkaitan erat dengan perkembangan sosial anak.
  • Robert J. Havighurst telah membagi tahap perkembangan moral seseorang kedalam empat tahap, tahap perkembangan moral yang terjadi pada usia pra sekolah yaitu anak belum dapat menafsirkan hal-hal yang tersirat dari sebuah perbuatan, antara perbuatan disengaja atau tidak, anak belum mengetahui, yang ia nilai hanyalah kenyataannya.
  • Namun demikian, sebagian ahli berpendapat bahwa masalah moral akan muncul manakalaterjadi suatu pertentangan ataupun konflik mengenai persoalan tujuan, rencana, hasrat, keinginan, serta harapan manusia.
  • Ketika anak-anak berhadapan dengan pertentangan yang dikemukakan diatas, proses yang mereka lakukan dalam menyelesaikan masalah permasalahan moral dapay untuk memotivasi agar memeperhatikan kepentingan orang lain dan kecendrungan untuk merasa tidak senang manakala mereka tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

EMOSIONAL
  • Emosi merupakan perasaan yang merupakan perpaduan gejolak fisiologis dan perilaku yang terlibat didalamnya. Kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan adalah diantara jenis bagian yang melingkupi emosi ini. Oleh karena itu, semua hal yang bersumber pada emosi harus diperhatikan karena jika tidak bisa melahirkan masalah besar.
  • Pada awal pertumbuhannya, seorang anak belum memiliki reaksi emosional terhadap objek yang bersifat abstrak, seperti mencintai keindahan, kejujuran, kebenaran, etika, dan estetika sebagaimana yang dimiliki oleh orang dewasa.
  • Anak usia pra sekolah pun akan memiliki bahasa tubuh yang khas dalam merefleksikan emosinya bila sedang marah, sedih, atau bahagia. Meski demikian kondisi tiap-tiap anak berbeda satu sama lain.
  • Menurut Dadang Hawari perbedaan emosi antar anak satu dengan yang lain dipengaruhi sikap, cara, dan kepribadian orang tua dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik anaknya. Dalam paradigma yang lain ada factor lain diluar anak yang mempengaruhi perbedaan tersebut, salah satu yang mendasar adalah lingkungan dimana anak itu tinggal.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adallila, S. 2010. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini. http://sadidadallila.wordpress.com (diakses 17 Mei 2011)
  2. Ahmad, Rofiq. 2008. Perkembangan Menurut DDST II. http://rofiqahmadwordpress.com (diakses 18 Mei 2011)
  3. Alimul, Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta
  4. Arikunto. S, 2003. Prosuder Penelitian. Rineka: Jakarta
  5. Aspi, J. 2010. Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia dan Target Capaian PAUD. http://www.tunasbangsaku-tk/. (diakses 9 Mei 2011)
  6. Dirjen PNFI. 2009. Depdiknas Siapkan Standarisasi PAUD. http://www.aspijatim.blogspot.com (diakses 9 Mei 2011)
  7. Fakhruddin, A.U. 2010. Sukses menjadi Guru TK-PAUD. Bening. Yogyakarta
  8. Hasan, M. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Diva Press. Yogyakarta
  9. Hasan, Iqbal. 2010. Analisa Data Penelitian Dengan Statistik. Bumi Aksara: Bandung
  10. Kharimaturrohmah. 2009. Laporan UNESCO Mengenai Pendidikan Untuk Semua. http://www.fpaudi.org/index. (diakses 17 Mei 2011)
  11. Nursalam, 2003. Konsep Ilmu Keperawatan Pedoman Skirpsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta
  12. Notoatmojo, S. 2005. Prosuder Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta
  13. Potter & Perry, 2005. Perkembangan Anak. EGC: Jakarta
  14. Santoso, Heru. 2009. Petunjuk Praktis Denver Developmental Screening Test. EGC: Jakarta
  15. Santrock, J.W. 2002. A Tropical Approuch to Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. Boston, Mc. Graw Hill
  16. Santrock, J. W. 2007. Perkembangan Anak. Boston, Mc. Graw Hill
  17. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. EGC: Jakarta
  18. Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung
  19. Suyanto. 2009. Riset Kebidanan. Mitra Cendika Press: Yogyakarta
  20. Dosen Prodi STIKES Aisyiyah Yogyakarta. 2009. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan. STIKESAYO: Yogyakarta


More aboutPERKEMBANGAN ANAK PRASEKOLAH

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) 1

Posted by ReTRo

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

DEFINISI PENDIDIKAN USIA DINI (PAUD)
  • Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, pasal 1, butir 14 dinyatakan bahwa “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.
  • Sedangkan pada pasal 28 tentang pendidikan anak usia dini dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan atau informal.
  • Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. (Adalilla, S, 2010)
  • PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kecerdasan, daya pikir, daya cipta, emosi, spiritual, berbahasa/komunikasi, dan social (Hasan, 2009).
  • Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pendidikan melibatkan seluruh anak mencakup kepedulian akan perkembangan fisik, kognitif, dan social anak. Pembelajaran diorganisasikan sesuai dengan minat-minat dan gaya belajar anak (Santrock, 2007)

TUJUAN PAUD
  • Secara umum, tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendidikan anak pun bisa dimaknai sebagai usaha mengoptimalkan potensi-potensi luar biasa anak yang bisa dibingkai dalam pendidikan, pembinaan terpadu, maupun pendampingan.

FUNGSI PAUD
  • Fungsi pendidikan anak usia dini secara umum adalah :
  1. Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak
  2. Mengenalkan anak pada dunia sekitar
  3. Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik
  4. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi
  5. Mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki anak
  6. Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan selanjutnya.

JENIS PELAYANAN PAUD
  • Dibanding dengang perkembangan model dan jenis PAUD di berbagai negara maju dan berkembang lainnya, PAUD di Indonesia memiliki keunikan khusus yang agak berbeda dengan di luar negeri. Karena di luar negeri PAUD pada umumnya hanya dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu Kindergarden atau Play Group dan Day Care, sedang di Indonesia menjadi 4 (empat) macam yaitu :
  1. Taman Kanak-Kanak (Kindergarten)
  2. Kelompok Bermain (Play Group)
  3. Taman Penitipan Anak (Day Care)
  4. PAUD sejenis (Similar with Play Group)

SISTEM PENYELENGGARAAN PAUD
  • Penyelenggaraan PAUD di negara lain semata-mata hanya menstimulasi kecerdasan anak secara komprehensif dan pengasuhan terhadap anak, karena aspek kecerdasan yang dikembangkan hanya meliputi kecerdasan intelektual, emosional, estetika, dan social serta pengasuhan. Sedang di Indonesia potensi kecerdasan tersebut diberikan juga pendidikan untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual yang dilaksanakan melalui pendekatan olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Di samping itu, juga diberikan pengetahuan dan pembinaan terhadap kondisi kesehatan dan gizi peserta didik. Oleh karena itu, penyelenggaraan PAUD di Indonesia disebut penyelenggaran PAUD secara “Holistik dan Integratif”

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
  • Dalam melaksanakan pendidikan anak usia dini, hendaknya menggunakan prinsip-prinsip berikut :
1). Berorientasi pada kebutuhan anak
  • Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi pada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi disemua aspek perkembangan baik fisik, intelektual, bahasa, motorik, dan sosioemosional. Berorientasi pada kebutuhan anak membuat pendidikan begitu menyenangkan. Anak akan menjadikan belajar sebagai kebutuhan pokoknya.
2). Belajar melalui bermain
  • Bermain merupakan sarana belajar anak usia dini. Mulai bermain, anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpilan mengenai benda di sekitarnya. Dengan bermain anak berusaha memahami karakter teman-temannya, termasuk karakteristik orang dewasa disekitarnya. Bermain dan permainan bagi anak menjadi semacam air kehidupan yang begitu penting bagi kehidupan anak.
3). Lingkungan yang kondusif
  • Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain. Pasalnya lingkungan yang kondusif akan mengajak anak untuk bisa memosisikan dirinya secara proporsional. Dia akan berusaha menjadi bagian dari teman-temanya.
4). Menggunakan pembelajaran terpadu
  • Pembelajaran terpadu bisa dikatakan sama dengan pembelajaran yang sesuai dengaan potensi dan bakat anak. Oleh karenanya, pendidikan dengan model pengelompokkan anak-anak yang dianggap pandai dalam ruangan tertentu membuat anak tidak bisa berkembang maksimal, khususnya pada aspek social emosional.
5). Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
  • Mengembangkan keterampilan hidup dapat dialkukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri, bertanggung jawab, serta memiliki disiplin diri. Mengembangkan berbagai kecakan hidup juga akan mengajak anak untuk senantiasa kreatif dalam setiap langkah yang dipilih atau masalah yang menghadang.
6). Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
  • Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik atau guru. Renik-renik disekitar kita bisa dijadikan bahan ajar yang begitu mempesona anak-anak didik. Hal ini karena renik-renik tersebut juga dekat dengan dunia anak, sehingga anak akan menikmati sumber belajar itu.
7). Dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang
  • Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya disajikan secara berulang. Kebertahapan dalam pendidikan membuat anak bisa menangkap makna atas apa yang diberikan. Pengulangan yang dilakukan membuat anak kianmelakukan kristalisasi atas pelajaran dan transfer ilmu serta nilai yang dilakukan.

KOMPONEN KURIKULUM PAUD

1. Anak
  • Sasaran layanan pendidikan anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun. Pengelompokkan anak tersebut didasarkan pada usia sebagai berikut :
  1. 0-1 tahun
  2. 1-2 tahun
  3. 2-3 tahun
  4. 3-4 tahun
  5. 4-5 tahun
  6. 5-6 tahun

2. Pendidik
  • Kompetensi pendidik anak usia dini memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya Diploma Empat atau Sarjana dibidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi, daan memiliki sertifikasi profesi guru PAUD, atau sekurang-kurangnya telah mendapat pelatihan pendidikan anak usia dini. Adapun rasio pendidik dan anak sekolah sebagi berikut :
  1. Usia 0-1 tahun, rasio 1 : 3 anak
  2. Usia 1-3 tahun, rasio 1 : 6 anak
  3. Usia 3-4 tahun, rasio 1 : 8 anak
  4. Usia 4-6 tahun, rasio 1 : 10-12 anak

3. Pembelajaran
  • Pembelajaran dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyipakan materi (content) dan proses belajar. Materi belajar bagi anak usia dini dibagi dalam dua kelompok usia. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut.
  • Materi usia lahir sampai usia 3 tahun meliputi hal-hal berikut :
  1. Pengenalan diri sendiri
  2. Pengenalan perasaan
  3. Pengenalan tentang orang lain
  4. Pengenalan berbagai gerak
  5. Mengembangkan komunikasi
  6. Keterampilan berpikir
  • Materi untuk anak usia 3-6 tahun meliputi hal-hal berikut :
  1. Keaksaraan, yang mencakup peningkatan kosakata dan bahasa, serta percakapan
  2. Konsep matematika yang mencakup pengenalan angka-angka, pola-pola dan hubungan.
  3. Pengetahuan alam yang lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan bumi, dan lingkungan
  4. Pengetahuan social yang mencakup hidup orang banyak, bekerja, berinteraksi dengan orang lain.
  5. Seni yang mencakup menari, music, bermain peran, menggambar, dan melukis.
  6. Teknologi yang mencakup alat-alat dan penggunaan teknologi yang digunakan dirumah atau sekolah

LAYANAN PROGRAM
  • Lembaga pendidikan anak usia dini dilaksanakan sesuai dengan satuan pendidikan masing-masing. Pada bagian ini, dijelaskan tentang waktu-waktu yang digunakan dalam pendidikan prasekolah secara umum, jadi tidak hanya mengacu pada pendidikan di TK-PAUD.
  • Adapun jumlah hari dan jam layanan sebagai berikut:
  1. Taman penitipan anak (TPA) dilaksanakan 3-5 haridengan layanan minimal 6 jam.
  2. Kelompok bermain (KB) setiap hari atau maksimal 3 kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam.
  3. PAUD minimal satu minggu sekali dengan jam layanan minimal 2 jam
  4. Taman kanak-kanak dilaksanakan minimal 5 hari setiap minggu dengan jam layanan minimal 2,5 jam

TANTANGAN PRIORITAS PENDIDIKAN PAUD
  • Sampai saat ini masi ada beberapa masalah yang dapat menghambat perluasan kesempatan dan pemerataan akses mengikuti PAUD serta peningkatan mutu PAUD di Indonesia, namun semua itu kita anggap sebagai tantangan yang menarik sehingga untuk mengatasinya diperlukan kreatifivitas dan inovasi yang berkelanjutan.
  1. Jumlah anak yang belum mengikuti PAUD masih cukup besar.
  2. Sarana dan prasarana belajar secara kuantitatif maupun kualitatif masih terbatas, hal ini disebabkan oleh terbatasnya kreativitas guru PAUD untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran dan sumber belajar dengan memanfaatkan potensi budaya dan alam sekitar.
  3. Kompetensi sebagian besar guru PAUD masih belum memadai karena sebagian besar dari mereka tidak berasal dari latar belakang pendidikan PAUD dan mereka belum memperoleh pelatihan yang berkaitan dengan konsep dan ilmu praktis tentang PAUD.
  4. Perbedaan Angka Partisipasi Kasar (APK) peserta PAUD di daerah perkotaan dan perdesaan masih sangat besar.

TARGET APK-PAUD 2014
  • Pada tahun 2004 tercatat bahwa jumlah APK-PAUD baru mencapai 12,7 juta (27%) dan tahun 2008 APK-PAUD telah mencapai 15,1 juta (50,6%) serta diharapkan pada tahun 2009 akan mencapai 15,3 juta (53,6%). Berdasarkan kondisi tersebut pemerintah telah menetapkan rencana 5 tahun ke depan APK-PAUD diharapkan mencapai 21,3 juta (72,6%).

PERAN SERTA MASYARAKAT
  • Pelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dapat dilakukan oleh swasta dan pemerintah, yayasan maupun perorangan. Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa masyarakat harus dilibatkan dalam proses pembimbingan anak.
  • Alasan terkait pelibatan masyarakat adalah karena sepulang dari sekolah anak-anak akan kembali ke masyarakat. Meminta masyarakat untuk ikut pula mengawasi perkembangan atau perilaku anak ketika dia berada dimasyarakat. Dengan kata lain, menjadikan masyarakat sebagai rekan kerja. Apabila ini terjadi sinergi yang begitu mengagumkan antara pendidik, sekolah, dan pihak masyarakat, dan ini sangat membantu proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adallila, S. 2010. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini. http://sadidadallila.wordpress.com (diakses 17 Mei 2011)
  2. Ahmad, Rofiq. 2008. Perkembangan Menurut DDST II. http://rofiqahmadwordpress.com (diakses 18 Mei 2011)
  3. Alimul, Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta
  4. Arikunto. S, 2003. Prosuder Penelitian. Rineka: Jakarta
  5. Aspi, J. 2010. Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia dan Target Capaian PAUD. http://www.tunasbangsaku-tk/. (diakses 9 Mei 2011)
  6. Dirjen PNFI. 2009. Depdiknas Siapkan Standarisasi PAUD. http://www.aspijatim.blogspot.com (diakses 9 Mei 2011)
  7. Fakhruddin, A.U. 2010. Sukses menjadi Guru TK-PAUD. Bening. Yogyakarta
  8. Hasan, M. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Diva Press. Yogyakarta
  9. Hasan, Iqbal. 2010. Analisa Data Penelitian Dengan Statistik. Bumi Aksara: Bandung
  10. Kharimaturrohmah. 2009. Laporan UNESCO Mengenai Pendidikan Untuk Semua. http://www.fpaudi.org/index. (diakses 17 Mei 2011)
  11. Nursalam, 2003. Konsep Ilmu Keperawatan Pedoman Skirpsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta
  12. Notoatmojo, S. 2005. Prosuder Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta
  13. Potter & Perry, 2005. Perkembangan Anak. EGC: Jakarta
  14. Santoso, Heru. 2009. Petunjuk Praktis Denver Developmental Screening Test. EGC: Jakarta
  15. Santrock, J.W. 2002. A Tropical Approuch to Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. Boston, Mc. Graw Hill
  16. Santrock, J. W. 2007. Perkembangan Anak. Boston, Mc. Graw Hill
  17. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. EGC: Jakarta
  18. Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung
  19. Suyanto. 2009. Riset Kebidanan. Mitra Cendika Press: Yogyakarta
  20. Dosen Prodi STIKES Aisyiyah Yogyakarta. 2009. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan. STIKESAYO: Yogyakarta

More aboutPENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) 1

PENGOLAHAN DATA

Posted by ReTRo on Wednesday, July 20, 2011

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGOLAHAN DATA

  • Menurut Nazir (2005) Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan data melalui tahapan Editing, Coding, Scoring, dan Tabulating.
1. Editing
  • Adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meneliti kembali apakah isian pada lembar pada pengumpulan data (kuesioner) sudah cukup baik sebagai upaya menjaga kualitas data agar dapat diproses lebih lanjut. Pada saat melakukan penelitian, apabila ada soal yang belum oleh responden maka responden diminta untuk mengisi kembali dan apabila ada jawaban ganda pada kuesioner maka dianggap salah.
2. Coding
  • Adalah Mengklasifikasikan jawaban dari responden menurut kriteria tertentu. Yaitu untuk kriteria berperan diberi kode 2 dan kriteria tidak berperan diberi kode 1.
3. Scoring
  • Adalah penentuan jumlah skor, dalam penelitian ini menggunakan skala ordinal. Oleh karena itu hasil kuesioner yang telah di isi bila benar diberi skor 1 dan bila salah diberi skor 0. Kemudian di prosentasikan dengan cara jumlah jawaban benar dibagi jumlah soal dan dikalikan 100%
4. Tabulating
  • Tabulasi adalah penyusunan data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi

ANALISA DATA
  • Untuk variabel yang diteliti dianalisis dengan menggunakan rumus :
  • Pertanyaan positif diberi skor :
  1. Sangat setuju : 4
  2. Setuju : 3
  3. Tidak setuju : 2
  4. Sangat tidak setuju : 1

  • Pertanyaan negatif diberi skor :
  1. Sangat setuju : 1
  2. Setuju : 2
  3. Tidak setuju : 3
  4. Sangat tidak setuju : 4
  • Setelah semua data terkumpul dari hasil kuesioner responden dikelompokkan sesuai dengan sub variebel yang diteliti. Jumlah jawaban responden dari masing-masing pertanyaan dijumlahkan dan dihitung menggunakan skala likert:
 
  • T = 50 + 10
  • Keterangan :
  • x = Skor Responden
  • x = Nilai rata-rata kelompok
  • SD = Standart deviasi
  • SD =
  • T mean data =
  • Kriteria berperan bila skor :Tresponden > Mean T
  • Kriteria tidak berperan bila skor : Tresponden ≤ Mean T
(Azwar, 2005)
More aboutPENGOLAHAN DATA

ROKOK DAN PERILAKU MEROKOK

Posted by ReTRo on Monday, July 18, 2011

Dr. Suparyanto, M.Kes

ROKOK DAN PERILAKU MEROKOK

PENGERTIAN ROKOK
  • Rokok adalah hasil olahan tambakau terbungkus termasuk cerutu atu bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicoliana Tabacum, Nicoliana Rustica dan Spesiae lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan ( PP Nomor 19, 2003).

KANDUNGAN ROKOK
  • Asap akan muncul setiap kali bahan organik, seperti kayu atau daun terbakar dengan tidak sempurna. Begitu pula rokok yang terbakar pasti juga akan mengeluarkan asap. Asap utama adalah asap rokok yang terhisap langsung masuk ke paru-paru perokok lalu dihembuskan kembali. Asap sampingan adalah asap rokok yang dihasilkan oleh ujung rokok yang terbakar.
  • Setiap batang rokok mengandung 4800 jenis bahan kimia, 400 diantaranya beracun dan kira-kira 40 diantaranya bisa menyebabkan kanker (Yahya, 2010: 45).
  • Zat-zat tersebut diantaranya:
  1. Nikotin, adalah salah satu obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah, nikotin membuat pemakainya kecanduan. Nikotin merangsang otak supaya si perokok merasa cerdas pada awalnya, kemudian ia melemahkan kecerdasan otak.
  2. Tar, adalah cairan dan partikel-partikel kecil yang berasal dari asap rokok yang lengket bersama membentuk bahan yang berwarna hitam kecoklat-coklatan dan bau. Tar mengandung bahan kimia yang beracun, dapat merusak paru-paru dan menyebabkan kanker.
  3. Gas Karbon monoksida (CO), mempunyai daya gabung atau afinitas dengan hemoglobin 220 kali lebih besar dari oksigen. Akibatnya, setiap gas CO di udara dengan cepat diambil oleh hemoglobin darah, sehingga jumlah hemoglobin yang tersedia untuk membawa oksigen pemberi hidup itu ke seluruh sistem jadi berkurang.
  4. Sianida, menghambat penggunaan oksigen di dalam sel.
  5. Benzopyrene, adalah bahan atau substansi yang terdapat di dalam tar dan mengendap di saluran udara: mulut, pangkal tenggorokan, cabang tenggorokan dan paru-paru, serta masih banyak lagi bahan kimia yang beracun berada pada sebatang rokok.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SESEORANG UNTUK MEROKOK
  • Menurut Istiqomah, (2003) sebagai berikut :
1). Faktor Lingkungan Pergaulan
  • Ejekan juga bisa membuat seseorang yang tadinya tidak merokok menjadi merokok. Yang jelas berdasarkan emosional jiwa ditunjang pengaruh lingkungan pergaulan, akan timbul perubahan-perubahan sosial.
2). Faktor Lingkungan Keluarga
  • Lingkungan keluarga memiliki paranan penting dalam membentuk kepribadiann anak karena didalam keluargalah anak pertama mengenal dunia ini. Di dalam keluarga yang orang tuanya merokok punya pengaruh terhadap anaknya. Mungkin pengaruhnya negatif, sehingga anak meniru orang tuanya, atau mungkin orang tua tak sanggup melarang karena dirinya jiga merokok.
3). Faktor Citra Rokok
  • Kesamaan dan kekompakan membuat mereka merasa satu dan kuat. Sedangkan jika tak sama dengan teman mereka takut dikucilkan. Itulah yang membuatnya merasa percaya diri dihadapan taman-teman sepergaulannya yang juga sama-sama merokok.
4). Pengaruh Idola dan Sponsor
  • Perilaku sang idola akan merupakan cermin yang mudah ditiru, tidak heran kalau iklan yang dibawakan oleh artis atau bintang film yang sedang naik daun dengan harapan produknya laris terjual.
5). Faktor Lingkungan Sekolah
  • Salah satu media yang ikut andil membantu pendidikan remaja adalah sekolah. Di sini peran sekolah menjadi tumpuan harapan bangsa sebab melalui sekolah remaja dididik menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, mandiri dan berguna. Kualitas sekolah yang sangat ditentukan oleh kualitas para gurunya serta terpenuhinya sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Dari satu sisi orang tua ingin mengawasi remajanya, disisi lain remajanya tak suka diawasi dan ingin bebas bergaul bersama teman-temanya. Atau, disatu sisi ramajanya masih membutuhkan pengawasan dan perhatian dari oarang tua, namun disisi lain orang tua sibuk tidak punya waktu.
6). Faktor Agama
  • Pendidikan agama dapat menjadi pedoman seseorang dalam berperilaku. Dari wawancara di lapangan, kebanyakan remaja mengatakan bahwa rokok hukumnya makruh, beberapa ramaja mengaku tidak tahu, dan hanya satu oarang yang mengatakan haram. Jadi, salah satu faktor yang membuat remaja tidak mencegah dirinya mencoba merokok adalah karena pengetahuan mereka terhadap hukum rokok adalah tidak haram.

PERILAKU MEROKOK

1). Pengertian Perilaku Merokok
  • Perilaku merokok adalah aktivitas seseorang yang merupakan respons orang tersebut terhadap rangsangan dari luar yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok dan dapat diamati secara langsung.
  • Sedangkan menurut Istiqomah Merokok adalah membakar tembakau kemudian dihisap, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temparatur sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 90 derajat Celcius untuk ujung rokok yang dibakar, dan 30 derajat Celcius untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok (Istiqomah, 2003).

2). Tipe Perokok
  1. Perokok sangat berat, dia mengkonsumsi rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit setelah bangun pagi.
  2. Perokok berat, merokok sekitar 21-30 batang sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6-30 menit.
  3. Perokok sedang, menghabiskan rokok 11-21 batang dengan selang waktu 31-60 menit setelah bagun pagi.
  4. Perokok ringan, menghabiskan rokok sekitar10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.

3). Menurut Tomkins dalam Sarafino,(1994) ada 4 tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory, keempat tipe tersebut adalah:
  1. Pengaruh Positif, individu mau merokok karena merokok memberi perasaan positif baginya. Dia menjadi senang dan tenang saat merokok.
  2. Pengaruh Negatif, merokok dapat meredakan emosi-emosi negatif dalam hidupnya.
  3. Ketergantungan Fisiologis, perilaku merokok yang sudah jadi kebiasaan. Secara fisik individu sudah merasa ketagihan untuk merokok dan dia tidak dapat menghindar atau menolak permintaan yang berasal dari dalam dirinya sendiri.
  4. Ketergantungan Psikologis, kondisi ketika individu merasakan, memikirkan dan memutuskan untuk merokok terus menerus. Dalam keadaan apa saja dan dimana saja ia selalu cenderung ingin merokok. ( Dariyo, 2004 ).

4). Tempat merokok juga mecerminkan pola perilaku perokok.
  • Berdasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok, maka dapat digolongkan atas:
a). Merokok di tempat-tempat umum atau ruang publik:
  1. Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smoking area.
  2. Kelompok yang heterogen (merokok ditengah orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll). Mereka yang berani merokok di tempat tersebut, tergolong sebagai orang yang tidak berperasaan, kurang etis dan tidak mempunyai tata karma. Bertindak kurang terpuji dan kurang sopan, dan secara tersamar mereka tega menyebar racun kepda orang lain yang tidak bersalah.

b). Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi:
  1. Di kantor atau di kamar tidur pribadi. Mereka yang memilih tempat-tempat seperti ini sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh dengan rasa gelisah dan mencekam.
  2. Di toilet, perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi.

c). Bahaya Merokok
  • Terpapar asap rokok selama 8 jam sebanding dengan merokok langsung sebanyak 20 batang perhari. Konsekuensi dari merokok antara lain meningkatnya kejadian infeksi saluran nafas bagian atas, batuk, asma, sinusitis, penyakit kardiovaskular, kanker, mengganggu fertilitas, lahir kurang bulan, kematian maupun absen dari kerja atau sekolah. Anak atau kaum muda yang merokok, pertumbuha dan perkembangan parunya segera akan terpengaruh oleh asap rokok tersebut.
  • Efek dari rokok atau tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi psikomotor. Jika dibandingkan zat-zat adiktif lainnya rokok sangatlah rendah pengaruhnya, maka ketergantungan kepada rokok tidak begitu dianggap gawat (Roan,1979 ).
  • Sedangkan menurut ( Dariyo,2004 ) individu yang mempunyai kebiasaan merokok darahnya telah terkontaminasi dengan zat nikotin. Zat tersebut bisa membuat darah menjadi makin kental, sehingga dapat menghambat proses pemompaan darah yang dilakukan jantung. Akibatnya bisa gagal jantung karena fungsi jantung tidak bekarja dengan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alimul, A. 2008. Metode Penelitian Keperawatan Tekhnik Analisa data. Jakarta : Salemba Medika
  2. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
  3. Candra Dewi, N. 2009. Bagaimana Mekanisme Pernapasan pada manusia. Jakarta : PT. Intan Pariwara
  4. Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika
  5. Hurlock, E. 2004. Psikologi perkembangan. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga
  6. Istiqomah, U. 200. Upaya Menuju Generasi Tanpa Rokok. Surakarta: Seti Aji
  7. Monks. 1994. Psikologi perkembangan. Edisi kesembilan. Yogyakarta: UGM
  8. Niven, N. 2002. Psikologi Kesehatan. Jakarta : EGC
  9. Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
  10. Notoatmodjo, S., 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta
  11. Notoatmodjo, S., 2009. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
  12. Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba medika.
  13. Nursalam.,2008. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba medika.
  14. Purwanto, H. 1999. Pengantar Perilaku Manusia. Jakarta: EGC
  15. Rakhmat, J. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  16. Rasmun . 2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga. Jakarta : Sagung Seto.
  17. Sugiyono. 2002. Statistik Untuk Penelitian. Bandung :Alfabeta
  18. Widayatun, T. 2009. Ilmu Perilaku. Jakarta: Sagung Seto.


More aboutROKOK DAN PERILAKU MEROKOK

KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL

Posted by ReTRo on Thursday, July 14, 2011

Dr. Suparyanto, M.Kes

KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL

PENGERTIAN
  • Menurut Depkes RI (1994) pengukuran LILA pada kelompok wanita usia subur adalah salah satu cara untuk mendeteksi dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam, untuk mengetahui kelompok berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil adalah kekurangan gizi pada ibu hamil yang berlangsung lama (beberapa bulan atau tahun) (DepKes RI, 1999).
  • Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK ( Arismas,2009).
  • Ibu KEK adalah ibu yang ukuran LILAnya < 23,5 cm dan dengan salah satu atau beberapa kriteria sebagai berikut : a.Berat badan ibu sebelum hamil < 42 kg. b.Tinggi badan ibu < 145 cm. c.Berat badan ibu pada kehamilan trimester III < 45 kg. d.Indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00 e.Ibu menderita anemia (Hb < 11 gr %) (Weni, 2010). 
PENGUKURAN STATUS GIZI 

1.Pengukuran LILA 
  • Ada beberapa cara untuk dapat digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur LILA, mengukur kadar Hb. Bentuk adan ukuran masa jaringan adala masa tubuh. Contoh ukuran masa jaringan adala LILA, berat badan, dan tebal lemak. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunjukan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Pertambahan otot dan lemak di lengan berlangsung cepat selama tahun pertama kehidupan (Arisman,2009). 
  • Lingkaran Lengan Atas (LILA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak berpengaruh banyak oleh cairan tubuh. Pengukuran ini berguna untuk skrining malnutrisi protein yang biasanya digunakan oleh DepKes untuk mendeteksi ibu hamil dengan resiko melahirkan BBLR bila LILA < 23,5 cm (Wirjatmadi B, 2007). Pengukuran LILA dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang menderita Kurang Energi Kronis. Ambang batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23.5 cm. Apabila ukuran kurang dari 23.5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir rendah ( Arisman, 2007) 
  • a.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalan pengukuran LILA 
  1. Pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri. 
  2. Lengan harus dalam posisi bebas. 
  3. Lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang. 
  4. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya tidak rata (Arisman, 2007). 
  • b.Cara Mengukur LILA 
  1. Tetapkan posisi bahu dan siku 
  2. Letakkan pita antara bahu dan siku. 
  3. Tentukan titik tengah lengan. 
  4. Lingkaran pita LILA pada tengah lengan. 
  5. Pita jangan telalu ketat.
  6. Pita jangan terlalu longgar. 
  7. Cara pembacaan skala yang benar. (Arisman, 2007) 
2.Pengukuran Berat Badan 
  • Berat badan merupakan ukuran antropometris yang paling banyak digunakan karena parameter ini mudah dimengerti sekalipun oleh mereka yang buta huruf ( Arisma, 2009). 
  • Berat badan adalah satu parameter yang memberikan gambaran masa tubuh. Masa tubuh sangat sensitive terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunya nafsu makan atau menurunnya jumlah makan yang dikonsumsi. 
  • Pada prinsipnya ada dua macam timbangan yaitu beam (lever)balance scales dan spring scale. Contoh beam balance ialah dancing, dan spring scale adalah timbangan pegas. Karena pegas mudah melar timbangan jenis spring scsle tidak dianjurkan untuk digunakan berulang kali, apalagi pada lingkungan yang bersuhu panas. 
  • Berat badan ideal ibu hamil sebenarnya tidak ada rumusnya, tetapi rumusannya bisa dibuat yaitu dengan dasar penambahan berat ibu hamil tiap minggunya yang dikemukakan oleh para ahli berkisar antara 350-400 gram, kemudian berat badan yang ideal untuk seseorang agar dapat menopang beraktifitas normal yaitu dengan melihat berat badan yang sesuai dengan tinggi badan sebelum hamil, serta umur kehamilan sehingga rumusnya dapat dibuat. 
  • Dengan berbekal beberapa rumus ideal tentang berat badan, saya (penulis) dapat kembangkan menjadi rumus berat badan ideal untuk ibu hamil yaitu sebagai berikut : Dimana penjelasannya adalah BBIH adalah Berat Badan Ideal Ibu Hamil yang akan dicari. BBI = ( TB – 110) jika TB diatas 160 cm (TB – 105 ) jika TB dibawah 160 cm. Berat badan ideal ini merupakan pengembangan dari (TB-100) oleh Broca untuk orang Eropa dan disesuaikan oleh Katsura untuk orang Indonesia. UH adalah Umur kehamilan dalam minggu. Diambil perminggu agar kontrol faktor resiko penambahan berat badan dapat dengan dini diketahui. 0.35 adalah Tambahan berat badan kg per minggunya 350-400 gram diambil nilai terendah 350 gram atau 0.35 kg . Dasarnya diambil nilai terendah adalah penambahan berat badan lebih ditekankan pada kualitas (mutu) bukan pada kuantitas (banyaknya) (Supriasa, 2002). 
3.Pengukuran Tinggi Badan 
  • Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Disamping itu tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan , factor umur dapat dikesampingkan. Ibu hamil pertama sangat membutuhkan perhatian khusus. 
  • Pengukuran tinggi badan bermaksud untuk menjadikanya sebagai bahan menentukan status gizi. Status gizi yang ditentukan dengan tinggi badan tergolong untuk mengukur pertumbuhan linier. Pertumbuhan linier adalah pertumbuhan tulang rangka, terutama rangka extrimitas (tungai dan lengan). Untuk tinggi badan peranan tungkai yang dominan. 
  • Pengukuran tinggu badan orang dewasa, atau yang sudah bisa berdiri digunakan alat microtoise (baca: mikrotoa) dengan skala maksimal 2 meter dengan ketelitian 0,1 cm. Apabila tidak tersedia mikrotoise dapat digunakan pita fibreglas (pita tukang jahit pakaian) dengan bantuan papan data dan tegak lurus dengan lantai. Pengukuran dengan pita fibreglass seperti ini harus menggukan alat bantu siku-siku. Persyaratan tempat pemasangan alat adalah didinding harus datar dan rata dan tegak lurus dengan lantai. Dinding yang memiliki banduk di bagian bawah (bisanya pada lantai keramik) tidak bisa digunakan. Hal yang harus diperhatikan saat pemasangan mikrotoise adalah saat sudah terpasang dan direntang maksimal ke lantai harus terbaca pada skala 0 cm. 
  • A.Cara Pengukuran Berdiri membelakangi dinding dimana microtoie terpasang dengan posisi siap santai (bukan siap militer), tangan disamping badan terkulai lemas, tumit, betis, pantat, tulang belikat dan kepala menempel di dinding. Pandangan lurus ke depan. Sebagai pegukur harus diperiksa ketentuan ini sebelum membaca hasil pengukuran. Tarik microtiose ke bawah sampai menempel ke kepala. Bagi terukur yang berjilbab agak sedikit ditekan agar pengaruh jilbab bisa diminimalisir. Untuk terukur yang memakai sanggul harus ditanggalkan lebih dahulu atau digeser ke bagia kiri kepala. Saat pengkuran, sandal, dan topi harus dilepas. Baca hasil ukur pada posisi tegak lurus dengan mata (sudut pandang mata dan skala microtoise harus sudut 90 derajat). Pada gambar di atas, apabila terukur lebuh tinggi dai Pengukur, maka pengukur harus menggunakan alat peningi agar posisi baca tegak lurus. Bacaan pada ketelitian 0,1 cm, artinya apabila tinggi terukur 160 cm, harus ditulis 160,0 cm (koma nol harus ditulis). Tinggi badan kurang dari 145 cm atau kurang merupakan salah satu risti pada ibu hamil. Luas panggul ibu dan besar kepala janin mungkin tidak proporsional, dalam hal ini ada dua kemungkinan yang terjadi: a.Panggul ibu sebagai jalan lahir ternyata sempit dengan janin/kepala tidak besar. b.Panggul ukuran normal tetapi anaknya besar/kepala besar. Pada kedua kemungkinan itu, bayi tidak dapat lahir melalui jalan lahir biasa, dan membutuhkan operasi Sesar. 
4.Indeks Masa Tumbuh 
  • Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengarui produktif kerja. Laporan FAO /WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan oleh Body Mass Index (BMI). 
  • Di Indonesia istila Body Mass Index diterjemahkan menjadi Indekx Masa Tubuh (IMT) merupakan alat yang sederhana untu memantau status gizi orang dewasa khusunya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Berat badan dilihat dari Quatelet atau body mass Index (IMT). 
  • Ibu hamil dengan berat badan dibawah normal sering dihubungkan dengan abnormalitas kehamilan, berat badan lahir rendah. Sedangkan berat badan overweight meningkatkan resiko atau terjadi kesulitan dalam persalinan. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan rumus matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh orang dewasa (Arisman, 2009). 
  • Penilaian Indeks Masa Tumbuh diperoleh dengan memperhitungkan berat badan sebelum hamil dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (Yuni, 2009). 
  • Rumus ini hanya cocok diterapkan pada mereka yang berusia antara 19-70 tahun, berstruktur tulang belakang normal, bukan atlet atau binaragawan. 
Tabel 2.2 Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan IMT 
Status Gizi 
  1. IMT KKP I < 16 
  2. KKP II 16,0 -16,9 
  3. KKP III 17,0 - 18,4 
  4. Normal ≤18,5 - < 25 
  5. Obesitas I 25 - 29,9 
  6. Obesitas II 30 – 40 
  7. Obesitas III >40
Sumber: Arisman, 2009

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURANG ENERGI KRONIS PADA IBU HAMIL

1. Faktor Sosial Ekonomi
  • Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat sosial ekonomi (FKM UI, 2007). Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan dikonsumsi sehari-harinya. Seseorang dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gzi yang dibutuhan tercukupi ditambah lagi adanya pemeriksaan membuat gizi ibu hamil semakin terpantau (Weni,2010). Sosial ekonomi merupakan gambaran tingkat kehidupan seseorang dalam masyarakat yang ditentukan dengan variabel pendapatan, pendidikan dan pekerjaan, karena ini dapat mempengaruhi aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan (Notoatmodjo, 2006).
a.Pendidikan
  • Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik (Umar, 2005). Faktor pendidikan mempengaruhi pola makan ibu hamil, tingkat pendidikan yang lebih tinggi diharapkan pengetahuan atau informasi tentang gizi yang dimiliki lebih baik sehingga bisa memenuhi asupan gizinya (FKM UI, 2007).
  • Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan ibu adalah pendidikan formal ibu yang terakhir yang ditamatkan dan mempunyai ijazah dengan klasifikasi tamat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi dengan diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam masing-masing klasifikasi (Depdikbud, 1997).
b.Pekerjaan
  • Pekerjaan adalah sesuatu perbuatan atau melakukan sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah guna untuk kehidupan (Kamus Besar Indonesia, 2008). Ibu yang sedang hamil harus mengurangi beban kerja yang terlalu berat karena akan memberikan dampak kurang baik terhadap kehamilannya (FKM UI, 2007). Kemampuan bekerja selama hamil dapat dipengaruhi oleh peningkatan berat badan dan perubahan sikap (Benson Ralph C, 2008). Resiko-resiko yang berhubungan dengan pekerjaan selama kehamilan termasuk :
  1. Berdiri lebih dari 3 jam sehari.
  2. Bekerja pada mesin pabrik terutama jika terjadi banyak getaran atau membutuhkan upaya yang besar untuk mengoperasikannya.
  3. Tugas-tugas fisik yang melelahkan seperti mengangkat, mendorong dan membersihkan.
  4. Jam kerja yang panjang (Curtis Glade B, 1999 ).
  • Kriteria pekerjaan dapat dibedakan menjadi buruh/pegawai tidak tetap, swasta, PNS/ABRI, tidak bekerja/ibu rumah tangga (Nursalam, 2001).
c.Pendapatan
  • Penerimaan baik berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain maupun pihak sendiri dari pekerjan atau aktivitas yang kita lakukan dan dengan dinilai sebuah uang atas harga yang berlaku pada saat ini. Pendapatan seorang dapat dikatakan meningkat apabila kebutuhan pokok seorangpun akan meningkat. Suatu kegiatan yang dilakukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur.
  • Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat penggelolaan sumber daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya. Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan. Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula prosentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis bahan makanan lainnya (FKM UI, 2007).
  • Berdasarkan survei pendapatan dan pengeluaran rumah tangga tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, pendapatan untuk pedesaan dibedakan menjadi 3 golongan yaitu :
  1. Pendapatan rendah di bawah Rp. 790.000,-
  2. Pendapatan sedang Rp.790.000,- sampai. Rp.1.270.000,-
  3. Pendapatan tinggi di atas Rp. 1.270.000,-
(www.Informasi Upah Minimum Regional (UMR) Jombang Tahun 2010, 2011)

2.Faktor Jarak Kelahiran
  • Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun. Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung (Baliwati, 2006). Berbagai penelitian membuktikan bahwa status gizi ibu hamil belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan sebelumnya, oleh karena itu belum siap untuk kehamilan berikutnya (FKM UI, 2007). Selain itu kesehatan fisik dan rahim ibu yang masih menyusui sehingga dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil. Ibu hamil dengan persalinan terakhir ≥ 10 tahun yang lalu seolah-olah menghadapi kehamilan atau persalinan yang pertama lagi. Umur ibu biasanya lebih bertambah tua. Apabila asupan gizi ibu tidak terpenuhi maka dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil.
  • Kriteria jarak kelahiran dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Resiko rendah (≥ 2 tahun sampai < 10 tahun).
  2. Resiko tinggi (< 2 tahun atau ≥ 10 tahun) (Rochjati P, 2003).

3. Faktor Paritas
  • Paritas (jumlah anak) merupakan keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Paritas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka kemungkinan banyak akan ditemui keadaan :
  1. Kesehatan terganggu : anemia, kurang gizi.
  2. Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim.
  • Kriteria paritas (jumlah anak) dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Partas rendah (< 4x kelahiran).
  2. Paritas tinggi (≥ 4x kelahiran).
  • Paritas (jumlah anak) merupakan keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Paritas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka kemungkinan banyak akan ditemui keadaan :
  1. Kesehatan terganggu : anemia, kurang gizi.
  2. Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim.
  • Kriteria paritas (jumlah anak) dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Partas rendah (< 4x kelahiran).
  2. Paritas tinggi (≥ 4x kelahiran) (Roechjati P, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alimul, A.H. 2008. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika
  2. Alimul, A.H. 2009. Metode Penelitian Kebidanan Teknnik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika
  3. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta
  4. Depdikbud. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka
  5. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
  6. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
  7. Prawirohardjo,Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono
  8. Rukiyah. 2009. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan). Jakarta: TIM
  9. Suyanto. 2009. Riset Kebidanan Metodologi dan Aplikasi. Jogjakarta: Mitra Cendikia Press
  10. Yuni. 2009. Perawatan Ibu Hamil. Jogyakarta : Fitramaya
  11. Weni. 2010. Gizi Ibu Hamil. Jogyakarta : Muha Medika
  12. Depkes RI. 1996. Pedoman Penaggulangan Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis. Jakarta : Direktorat Pembinaan Kesehatan Masyarakat
  13. Arisman. 2007. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC
  14. Proverawati. 2009. Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan. Jogyakarta : Muha Medika
  15. Anonym. 2011. Upah Minimum Regional (http://Informasi Upah Minimum Regional (UMR) Jombang Tahun 2010,2011.com/)
  16. Rochjati,Poedji. 2003. Skrining Antenatal Pada Ibu Hamil. Surabaya : FK UNAIR
  17. Arisman. 2009. Gizi Dalam Daur Keidupan. Jogyakarta : Muha Medika

More aboutKURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL