SEKILAS TENTANG BAYI BARU LAHIR

Posted by ReTRo on Sunday, October 28, 2012

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG BAYI BARU LAHIR

1.    Definisi Bayi Baru Lahir (BBL)
  • BBL adalah bayi yang baru lahir dari kehamilan 37–42 minggu dan BB lahir 2500–4000 gr. (Depkes RI, 1992)
  • BBLR adalah bayi yang memerlukan perawatan segera. (Sinopsis Obstetri, 1998)
  • Asuhan segera bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2006)
  • Bayi baru lahir adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Beralih dari ketergantungan pada ibu menuju kemandirian fisiologis. (http://www.foxitsofwere.com)

2.    Larangan Dan Himbauan Pada BBL
1.    Jagalah agar bayi tetap hangat
  1. Pastikan bayi tetap hangat.
  2. Gantilah handuk atau kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan selimut dan jangan lupa memastikan kepala telah terlindung dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
  3. Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15 menit.
  1. Kontak dini dengan ibu/ IMD
Inisiasi menyusui dini adalah bayi mulai menyusui sendiri segera setelah lahir. Berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin, kontak dini antara ibu dan bayi. Langkah-langkah melakukan IMD :
  1. Begitu lahir, bayi diletakkan diperut ibu yang sudah dialasi kain kering .
  2. Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya, kecuali kedua tanganya
  3. Tali pusat dipotong lalu diikat
  4. Vernik (zat lemak putih) yang melekat ditubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan karena zat ini membuat nyaman kulit bayi.
  5. Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada atau perut ibu dengan kontak kulit bayi dan kulit ibu. Ibu dan bayi diselimuti bersama-sama, jika perlu bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya.
Pentingnya IMD :
  1. Motivasi ibu untuk menyusui bayinya apabila telah “siap” dan dengan menunjukkan reflek rooting dan menghangatkan bayi.
  2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang
  3. Bayi memindahkan bakteri baik, dikulit ibunya
  4. Ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi lebih baik
  5. Hisapan bayi dapat merangasang pengeluaran hormon oksitosin
  6. Bayi mendapatkan kolostrum
  7. Biarkan bayi bersama ibunya paling sedikit 1 jam setelah lahir.
(Buku Inisiasi Menyusui Dini Plus ASI Eksklusif, 2008)
3.    Bayi baru lahir tidak  perlu memakai gurita.
  1.  Perawatan bayi dengan mengenakan gurita perlahan kini sudah mulai ditinggalkan. Penggunaan gurita pada bayi justru akan menekan bagian perut bayi dan membuat bayi kesulitan bernafas.
  2. Seandainya ibu ingin tetap mengenakan gurita sebaiknya ikatan harus  longgar. Jangan kuatir bahwa tali pusat bayi akan tergeser dan cemas bayi akan kesakitan.
  3. Pemakaian gurita yang terlalu ketat justru akan menekan lambung dan membuat bayi tidak nyaman. Selain itu bayi juga sedang masa pertumbuhan organ tubuhnya.
  4. Ibu kuatir perut bayi akan kembung? Tak perlu cemas, tidak ada bayi kembung akibat tidak menggunakan gurita sejak bayi. Pada bayi memang otot dinding perut masih belum kuat dan  sangat lentur, sehingga kadang tampak lebih besar.
  5. Seiring dengan pertumbuhan dan gerak bayi semakin aktif otot - otot  tubuh bayi akan semakin kencang dan bila sudah mulai merangkak dan berjalan  secara alami kondisi perut bayi akan lebih kencang karena  sudah ada gerakan dan aktifitas.
  6. Pusar yang baru lepas  kadang pangkalnya tampak menyembul sedikit hal yang wajar, kecuali  kondisi  hernia umbilikalis yang berat, maka perlu rujukan untuk ke dokter anak guna perawatan lebih lanjut. Perawatan tali pusar setelah lepas juga tidak perlu ditempeli uang koin untuk mencegah tidak bodong.
4.    Perawatan bayi dengan bedong.
  1. Bayi baru lahir memang membutuhkan kehangatan, namun bukan dengan membungkusnya rapat - rapat dengan kain bedong.
  2. Bila ingin memberi kehangatan sebaiknya   lipatan kain jangan terlalu erat. Sangat disarankan untuk lebih sering membebaskan bayi dari bedong agar bayi dapat bergerak bebas.
  3. Merawat bayi dengan  membungkus kain bedong  menjadi kebiasaan sebagian orangtua  selain untuk kehangatan juga  karena  mereka cemas bila melihat bayinya seperti ada reflek terkejut atau dalam bahasa medis di sebut hynogogic startles.
  4. Gerakan  seperti reflek terkejut  terlihat  pada tangan dan kaki  bayi seperti kejang dan gemetar  namun hanya beberapa detik . Hal ini normal dan akan menghilang sendiri ketika bayi memasuki usia 3 bulan.
  5. Cara mengatasinya memberi kehangatan dan kenyamanan dengan memeluk , meletakkan telapak tangan ibu didada bayi dengan lembut jika terkejut karena suara keras dan  memperbaiki posisi tidurnya agar nyaman.
  6. Mungkin ibu khawatir kaki bayinya akan bengkok. Tak perlu cemas. Bayi baru lahir memang kakinya cenderung  bentuknya  agak bengkok dan menekuk. Posisi kaki  saat bayi baru lahir memang masih belum bisa lurus  sehubungan dengan posisi bayi dalam kandungan.
  7. Secara perlahan nanti posisi kaki akan normal kembali. Kecuali bila  ada kelainan  pada bentuk tulang, tentu bidan akan menginformasikan cara perawatan lebih lanjut.
  8. Perhatian pada  bayi yang panas tidak  boleh dibedong, justru akan semakin meningkatkan suhu tubuhnya, dan bayi akan sesak karena tidak bisa bernafas dengan leluasa.
  9. Ibu sebaiknya membebaskan tangan dan kaki bayi dari ikatan bedong saat menyusui agar bayi juga bisa bersentuhan dengan ibunya. Kontak fisik ini sangat penting bagi bayi.
5.    Penggunaan bedak bayi.
  1. Bayi baru lahir sebaiknya tidak  perlu diberi  bedak tabur seluruh tubuh usai mandi. Resiko terhirup serbuk halus dari  bedak tabur akan  masuk paru -paru dan mengganggu pernafasan bayi.
  2. Bila memang ingin memberi bedak sebaiknya gunakan bedak padat dengan spon lembut. Cukup  usap tipis pada daerah  lipatan paha, lipatan bawah lutut,  ketiak,  dan leher.
  3. Jaga kebersihan saat bayi mandi dengan menyabuni daerah ketiak dan lipatan leher dengan cermat.  Akan lebih baik jika bayi  setiap selesai mandi kulit bayi tidak diberi bedak tabur atau talk sama sekali.
  4. Perawatan  bayi usai buang air kecil dan buang air besar  dengan menabur bedak   di pantat atau alat kelamin tidak direkomendasikan lagi.
  5. Menabur bedak justru  akan menumpuk kotoran pada daerah alat kelamin bayi dan mudah terjadi lecet atau iritasi.
  6. Pori - pori kulit   bayi masih sangat sensitif dan perlu sirkulasi udara terutama di daerah pantat dan alat kelamin yang tertutup.
  7. Setiap bayi buang air kecil atau buang air besar cukup bersihkan dengan kapas yang dibasahi air hangat dan keringkan dengan handuk  lembut.
6.    Penggunaan popok yang aman.
  1. Sebaiknya perawatan bayi menggunakan popok kain yang berbahan katun lembut. Bila terpaksa mengunakan pampers  saat berpergian. sebaiknya sering diperhatikan kondisi pampers. Ganti setiap basah.
  2. Anjuran terbaik adalah gunakan popok kain dari bahan katun yang lembut. Popok kain selain ramah lingkungan juga aman untuk bayi. Bayi terhindar dari resiko alergi dan  infeksi  dan ruam popok.
  1. Pencegahan infeksi
5 pedoman pencegahan infeksi :   
  1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kontak  dengan bayi.
  2. Pakai sarung tangan bersih
  3. Pastikan bahwa semua peralatan telah di DTT atau steril, jangan pernah menggunakan bola karet penghisap untuk lebih dari satu bayi
  4. Pastikan semua pakaian, selimut, handuk serta kain yang digunakan untuk bayi dalam keadaan bersih
  5. Pastikan timbangan, pita ukur, thermometer dan benda lain yang bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih.
  1. Pencegahan kehilangan panas
Mekanisme pengaturan temperatur tubuh pada BBL belum berfungsi sempurna. Jika tidak segera dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas tubuh maka BBL dapat mengalami hipotermi. Bayi dengan hipotermi sangat beresiko tinggi untuk mengalami kesakitan berat bahkan kematian. Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun berada di dalam ruangan yang relatif hangat.
BBL dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara-cara berikut :
  1. Evaporasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan dan diselimuti.
  2. Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan diatas benda-benda tersebut.
  3. Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi. Aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
  4. Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda- benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi(walaupun tidak bersentuhan secara lengkap)
  1. Jangan segera menimbang atau memandikan BBL
Karena BBL cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya (terutama jika tidak berpakaian). Sebelum melakukan penimbangan , terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/ diselimuti dikurangi dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan 6 jam setelah lahir karena dapat menyebabkan hipotermi yang sangat membahayakan kesehatan BBL.

  1. Pencegahan Infeksi Pada Mata
Tetes mata untuk pencegahan infeksi mata dapat diberikan setelah ibu atau keluarga memomong bayi dan diberi ASI. Pencegahan infeksi tersebut menggunakan salep mata Tetrasiklin 1%.Salep antibiotika tersebut harus diberikan dalam waktu 1 jam setelah kelahiran. Upaya profilaksis infeksi mata tidak efektif jika diberikan lebih dari 1 jam setelah kelahiran.Caranya :
  1. Berikan salep mata pada satu garis lurus mulai dari bagian mata yang paling dekat dengan hidung bayi menuju ke bagian luar mata.
  2. Ujung tabung salep mata tidak boleh menyentuh mata bayi
  3. Jangan menghapus salep mata dari mata bayi
(Buku Asuhan Persalinan Normal, 2007)

11. Cara perawatan Tali Pusat
a.    Mengikat Tali Pusat
  1. Celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan) kedalam larutan klorin 0,5 %.
  2. Bilas tangan dengan air DTT.
  3. Keringkan tangan dengan handuk atau tisu yang bersih dan kering.
b.    Nasehat untuk Merawat Tali Pusat
  1.  Jangan membungkus puntung tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat.
  2. Nasehati hal yang sama bagi ibu dan keluarganya.
  3. Mengoleskan alkohol atau betadine (terutama jika pemotong tali pusat tidak terjamin DTT atau steril) masih diperkenakan tetapi tidak dikompreskan karena menyebabkan tali pusat basah/ lembab.
  4. Bungkus tali pusat dengan kasa kering dan steril
c.                                                                                                                                    C. Beri nasehat pada ibu dan keluarga sebelum meninggalkan bayi :
  1. Lipat popok di bawah puntung tali pusat.
  2. Jika  puntung  tali  pusat  kotor, bersihkan (hati-hati) dengan air DTT dan sabun dan segera keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih.
  3. Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan jika pusat menjadi merah, bernanah atau berdarah atau berbau.
  4. Jika pangkal tali pusat (pusat bayi) menjadi merah, mengeluarkan nanah atau darah, segera rujuk bayi ke fasilitas yang dilengkapi perawatan untuk bayi baru lahir.
(Buku Asuhan Persalinan Normal. 2007 : 99)

12. Cara Memandikan Bayi

Sebenarnya, bayi tidak perlu dimandikan (yakni dengan mencelupkan ke dalam bak mandinya) dalam 1 – 2 minggu pertama. Namun bayi harus tetap dibersihkan dan dikeringkan setiap kali pipis atau buag air besar. Kalau puntung talipusat belum puput, bayi cukup dibersihkan dengan lap saja karena puntung talipusat yang basah, cenderung  menimbulkan infeksi. Gunakan air hangat-hangat kuku. Bukalah pakaiannya dan segera selimuti dengan handuk. Buka daerah tubuh bayi yang akan dilap saja agar bayi tidak kedinginan. Untuk wajah, tidak perlu menggunakan sabun. Gunakan sabun untuk mengelap bagian tubuh lainnya. Jangan lupa bersihkan juga daerah selangkangannya.
Kalaupun Anda lebih memilih untuk memandikannya, tidak mengapa. Yang penting, tahu caranya. Bila talipusat belum puput, Anda dapat  menyelupkan  ke dalam bak mandi kecil khusus si kecil. bayi boleh dimandikan di dalam bak mandi kecil. Gunakan air hangat-hangat kuku. Masukkan bayi secara perlahan-lahan. Mula-mula, basuhlan wajah, bagian kepala, kemudian seluruh tubuhnya tanpa menggunakan sabun. Lalu basuh kembali tubuh dan bagian lainnya dengan sabun, kemudian dibilas. Bila talipusat belum puput, segera keringkan talipusatnya seusai mandi dan bungkus dengan kasa kering steril.

13. Imunisasi Yang Perlu Bagi BBL
Dalam 24 jam dan sebelum ibu dan  bayi dipulangkan kerumah berikan imunisasi : BCG, POLIO, Dan HEPATITIS B ( Uniject ). 

14. Menu Sehat Bayi
Bayi dapat disusui segera setelah lahir atau sekurang-kurangnya dalam 4 jam, kebanyakan bayi menuntut pemberian makan terjadwal dan dapat diberi makan setiap kali bangun Kebutuhan ASI bagi bayi umur 3 hari 60-90 ml dengan frekwnsi pemberian 6-10 x / 24 jam.  Ibu menyusui setiap 2 – 3 jam siang dan malam, membangunkan bayi bila waktu menyusui tiba, memastikan bahwa mulut bayi terpasang dengan baik, dengarkan bunyi menelan bayi, payudara ibu kosong, dan tidak memberikan makanan lain selain ASI sampai umur 6 bulan.
Jika bayi Anda memasuki usia 6 bulan, maka berikan makanan yang berupa makanan lembut, tapi perlahan diganti menjadi makanan yang kasar  secara berangsur-angsur. Usia 1 tahun bayi Anda sudah dapat mengkonsumsi makanan dewasa. Jadwal makan adalah 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, sore atau malam. Demikian komposisinya: Pagi sebaiknya makanan setengah berat (bubur susu, oatmeal, roti, biskuit). Untuk makan siangnya dapat berupa buah padat yang dicampur susu (alpukat, apel kukus, pear kukus, labu kuning). Sedangkan untuk sore hari adalah makanan yang berat.
a. Karbohidrat
Bayi tentu membutuhkan karbohidrat. Sumber karbohidrat untuk bayi berusia 6 bulan dapat diperoleh dari tepung beras, tepung maizena, dan biskuit. Untuk berikutnya berangsur-angsur diganti dengan kentang, ubi merah, jagung, makaroni, roti, oatmeal, dan nasi (bubur atau tim).
b.  Protein dan Lemak
Kali ini untuk kebutuhan Protein dan Lemak bayi usia 6-8 bulan, sumber protein dan lemaknya dapat diperoleh dari susu, yoghurt, kuning telur, keju, kacang merah, kacang hijau, tempe, tahu, daging cincang, dan hati. Sedangkan bila telah memasuki usia 9 bulan, dapat diberikan ikan.
c.  Vitamin dan Mineral 
Memenuhi asupan vitamin dan mineral untuk bayi dapat diperoleh dari buah pisang, jeruk, pepaya, pear, apel, melon, semangka, mangga, dan alpukat. Sedangkan untuk sayur dapat diperoleh dari kacang polong, wortel, brokoli, bayam, kangkung, buncis, kembang kol, dan sawi hijau.

15. Imunisasi Pada Bayi

1.  Imunisasi Dasar (yang diharuskan)
1)    BCG
Bibit penyakit yang hidup dan telah dilemahkan
  1. Dilarutkan dengan 0,9% Nacl 4 cc dosis 0,05 cc.
  2. Umur 0 – 11 bulan, pemberian 1 x.
  3. Cara injeksi intrakutan pada insertio muskulus deltoid kanan.
  4. Rusak karena panas alkohol.
  5. Efek samping : Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan. Setelah 2 – 3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah ¹ 10 mm, luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan jaringan parut dengan garis tengah 3 – 7 mm.


2)    DPT
DPT dari bakteri yang dimatikan. TT dari bakteri dilemahkan.
  1. Umur 2 – 11 bulan. Pemberian 3 x bersamaan denga polio dengan selang waktu minimal 4 minggu
  2. Cara inkesi IM/ SC dosis 0,5 cc.
  3. Rusak karena panas.
  4. Efek samping :   1.       Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah diimunisasi DPT tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari.
  5. 2. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, merah/ bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan khusus karena akan sembuh dengan sendirinya.
3)    Polio
Vaksin hidup yang dilemahkan
  1. Umur 0 – 11 bulan, pemberian 4 x dengan jarak minimal 4 minggu.
  2. Cara : diteteskan di mulut dosis 2 tetes per oral.
  3. Rusak karena panas.
  4. Kontra indikasi diare profus.
  5. Efek samping : Jarang tubuh.


4)    Campak
Vaksin hidup yang telah dilemahkan
  1. Umur 9 bulan, pemberian 1 x dapat pula diberikan pada usia
    5 – 6 bulan, tetapi harus diulang sekali lagi pada waktu umur 1 – 2 tahun.
  2. Cara injeksi subkutan pada lengan kiri bagian atas, dosis
    0,5 cc.
  3. Rusak karena panas.
  4. Efek samping :   1.       1 – 3 hari panas.
  5. 2.       Kadang disertai kemerahan 4 – 10 hari sesudah penyuntikan.
5)    Hepatitis
Terbuat dari bagian virus yaitu lapisan paling luar (mantel virus) yang telah menjalani proses pemurnian.
  1. Umur 0 bulan à bayi lahir di rumah sakit
  2. Umur 2 – 9 bulan à bayi lahir di posyandu.
  3. Cara dengan injeksi IM pada paha luar, dosis 0,5 cc dengan
    3 x pemberian selang waktu 4 minggu.
  4. Rusak karena debu dan panas.
  5. Imunisasi dasar (DPT, Polio, Hepatitis) untuk mendapatkan kekebalan perlu diulang agar dapat melindungi dari paparan penyakit.
  6. Pemberian imunisasi dasar (campak, BCG) tidak perlu diulang karena kekebalan yang diperoleh dapat melindungi dari paparan bibit penyakit.
2.    Imunisasi yang dianjurkan
  1.  Imunisasi MMR (Mump Measles Rubella) untuk mencegah penyakit gondog dan rubella.
  2. Meningitis (radang selaput otak) heremophilus influenzae type B.
  3. Typus (cryphiro IV)
  4. Cacar air (varintix)
  5. Hepatitis A.
  6. DPT+HIB  (Tetract-Hib)
  7. Anti hepatitis (HB vax 11).(Dinkes, 2006)

16. Tanda Dan Gejala Tetanus  Neonatorum
    a.  Pengertian
Tetanus neonatorum merupakan suatu penyakit akut yang dapat dicegah namun dapat berakibat fatal, yang disebabkan oleh produksi eksotoksin dari kuman Clostridium tetani gram positif, dimana kuman ini mengeluarkan toksin yang dapat menyerang sistem syaraf pusat. penyakit tetanus terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan).
Masa inkubasi kuman 3-28 hari, namun biasanya 6 hari, dimana kematian 100% terjadi terutama pada masa inkubasi < 7 hari.
b.    Faktor predisposisi
·         Adanya spora tetanus
·         Adanya jaringan yang mengalami injury, misalnya pemotongan tali pusat
·         Kondisi luka tidak bersih, yang memungkinkan perkembangan mikroorganisme host yang rentan
·         Clostridium tetani terdapat di tanah, dan traktus digestivus manusia dan hewan. Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerob.
c.    Faktor resiko
·         Imunisasi TT pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program
·         Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai APN
·         Perawatan tali pusat tidak memenuhi standar kesehatan

d.    Pencegahan
·         Imunisasi TT
·         Memperhatikan sterilitas saat pemotongan dan perawatan tali pusat
e.    Kekebalan diperoleh melalui imunisasi TT
Sembuh tidak berarti kebal terhadap tetanus. Imunisasi TT merangsang pembentukan antibody spesifik yang mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu hamil mendapatkan imunisasi TT, sehingga terbentuk antibody dalam tubuhnya. Antibody tetanus termasuk golongan Ig G, melewati sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin yang dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum.
f.     Tanda Dan Gejala
·         Bayi yang semula dapat menetek, kemudian sulit menetek karena kejang otot rahang dan faring
·         Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan
·         Kejang terutama bila terkena rangsang cahaya, suara, sentuhan
·         Kadang disertai sesak nafas dan mulut bayi membiru
·         Suhu tubuh meningkat
·         Kaku kuduk
·         Kekakuan disertai sianosis
·         Nadi meningkat
·         Berkeringat banyak
·         Tidak dapat menangis lagi
·         Mata terus tertutup
·         Dinding perut keras
·         Kesadaran baik
  1. Pengobatan
Penanganan secara umum pada Tetanus Neonatorum:
1. Mengatasi kejang

  1.     a) Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan, penderita/bayi    ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya.
  2. b)   Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel bila lidah tergigit
3. Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga
3.    Pemberian antitoksin
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi ATS dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari berturut-turut dengan IM, kalau per infuse diberikan ATS 20.000 UI sekaligus.
5. Pemberian antibiotic
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan penisilin 200.000 UI setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun atau ampisilin 100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis secara intravena selama 10 hari.
6. Perawatan yang adekuat, meliputi:

  1. a) Kebutuhan oksigen
  2. b) Makanan (harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet)
  3. c) Keseimbangan cairan dan elektrolit, kalau pemberian makanan peros tidak mungkin maka diberikan makanan dan cairan intravena. Cairan intravena berupa larutan glukosa 5% : NaCI fisiologik 4:1 selama 48-70 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk selanjutnya untuk memasukkan obat.Bila sakit penderita lebih dari 24 jam atau sering terjadi kejang atau apnue, berikan larutan glukosa 10% : natrium bikarbonat 4:1 (sebaiknya jenis cairan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah) bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu ditambahkan protein dan kalium.
  4. d) Tali pusat dirawat dengan kasa bersih dan kering

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://bayibarulahir.blogspot.com/2011/06/pengertian-bayi-baru-lahir.html
  2. http://bayibarulahir.blogspot.com/2011/09/perawatan-tali-pusat-bayi-baru-lahir.html
  3. http://bayibarulahir.blogspot.com/2011/06/mengupas-tentang-perawatan-bayi-baru.html
  4. http://bayibarulahir.blogspot.com/2011/06/cara-merawat-bayi-baru-lahir.html
  5. http://bayibarulahir.blogspot.com/2011/09/bagaimana-cara-memandikan-bayi-baru.html
  6. http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/27/tetanus-neonatorum/
  7. http://www.beritaunik.net/tips-trik/5-imunisasi-yang-wajib-untuk-bayi.html
  8. http://irengputih.com/15-mitos-tentang-perawatan-bayi-dan-faktanya/3930/
  9. Ilmu Kebidanan, YBP–SP, 2005 : 226)
  10. Prawiroharjo S, (2002). Buku Panduan praktek PPelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta
  11. Manuaba, Ida Bagus Gde. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Bidan. EGC : Jakarta.
  12. Mellyna Huliana, Perawatan Ibu Pasca Melahirkan, Jakarta
  13. Saminem. (2003). Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Normal. Akademi Kebidanan Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya.
  14. Sastroasmoro S. Membina tumbuh kembang bayi dan balita. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2007
  15. Wiknjosastro, Hanifa. (2009). Ilmu Kandungan Cetakan 5. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.


{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment