KECEMASAN PADA PASIEN PRE SECTIO CAESARIA

Posted by ReTRo on Monday, November 5, 2012

Dr. Suparyanto, M.Kes


KECEMASAN PADA PASIEN PRE SECTIO CAESARIA

1.    Pengertian
Fase pre operasi dimulai ketika keputusan untuk menjalani operasi dibuat dan berakhir ketika pasien dipindahkan kemeja operasi (Smeltzer & Bare, 2001 ). Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui   suatu  insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 2002).
Dalam Operasi Sectio Caesar, ada tujuh lapisan yang diiris pisau bedah, yaitu lapisan kulit, lapisan lemak, sarung otot, otot perut, lapisan dalam perut, lapisan luar rahim, dan rahim. Setelah bayi dikeluarkan, lapisan itu kemudian dijahit lagi satu per satu, sehingga jahitannya berlapis-lapis.

2.    Jenis – jenis operasi sectio caesarea menurut Sarwono,2005
1.Abdomen (sectio caesarea abdominalis)
1)    Sectio caesarea transperitonealis: SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm.
2)    SC ismika atau profundal: (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm

2.Vagina (section caesarea vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :
1)    Sayatan memanjang ( longitudinal )
2)    Sayatan melintang ( Transversal )
3)    Sayatan huruf T ( T insicion )

3.    Prognosis (Sarwono,2005)
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anastesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika angka ini sangat menurun. Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. Nasib janin yang ditolong secara sectio caesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7 %.

4.    Komplikasi ( Sarwono, 2005)
Komplikasi yang bisa timbul pada sectio caesarea adalah sebagai berikut :
1)    Infeksi puerperal yang terdiri dari infeksi ringan dan infeksi berat. Infeksi ringan ditandai dengan kenaikan suhu beberapa hari dalam masa nifas, infeksi yang berat ditandai dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi bisa terjadi sepsis, infeksi ini bisa terjadi karena karena partus lama dan ketuban yang telah pecah terlalu lama,
2)    Perdarahan bisa terjadi pada waktu pembedahan cabang-cabang atonia uteria ikut terbuka atau karena atonia uteria,
3)    Terjadi komplikasi lain karena luka kandung kencing, embolisme paru dan deep vein trombosis,
4)    Terjadi ruptur uteri pada kehamilan berikutnya

5.    Persiapan Pre operasi
Tindakan umum yang dilakukan setelah diputuskan melakukan pembedahan Sectio Caesare adalah untuk mempersiapkan pasien agar penyulit pasca operasi dapat dicegah sebanyak mungkin.
Persiapan Mental menurut Rondhianto,(2008) :
Secara mental seorang pasien harus dipersiapkan untuk menghadapi pembedahan karena selalu ada rasa cemas atau takut terhadap penyuntikan, nyeri luka, anestesi terhadap kemungkinan cacat atau mati. Dalam hal ini hubungan baik antara penderita, keluarga dan dokter sangat menentukan. Kecemasan ini adalah reaksi normal yang dapat dihadapi dengan sikap terbuka dan penerangan dokter dan petugas kesehatan lainnya. Atas dasar pengertian, pasien dan keluarga dapat memberikan persetujuan dan izin untuk pembedahan.
Persiapan yang baik selama periode pre operasi menurunkan risiko operasi dan meningkatkan pemulihan pasca bedah. Tujuan tindakan keperawatan pre operasi menurut Luckman and Sorensen (2003) dimaksudkan untuk kebaikan bagi pasien dan keluarganya yang meliputi :
1)    Menunjukan rasa takut dan cemasnya hilang atau berkurang (baik ungkapan secara verbal maupun ekspresi muka)
2)    Dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan mobilisasi yang akan dijalankan setelah operasi ( latihan nafas dan batuk ).
3)    Terpelihara keseimbangan cairan, elektrolit dan nutrisi.
4)    Tidak terjadi aspirasi karena vomitus selama pasien dalam pengaruh anestesi
5)    Tidak ada atau berkurangnya kemungkinan terjadinya infeksi setelah operasi.
6)    Mendapatkan istirahat yang cukup.
7)    Menjelaskan pengertian tentang prosadur operasi yang akan dijalankan termasuk jadwal operasi dan menandatangani persetujuan operasi
8)    Kondisi fisiknya dapat dideteksi selama operasi berlangsung.

6.    Kecemasan Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea
1.Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea
Menurut Poter dan Perry (2006) pasien pre oprasi mengalami kecemasan karena mereka sering berfikir, seperti:
1)    Takut nyeri setelah pembedahan.
2)    Takut keganasan.
3)    Takut menghadapi ruangan operasi.
4)    Takut operasi gagal.

2.Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara:
1)    Membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum operasi, memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang akan dialami oleh pasien selama proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi, dll. Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi lebih siap menghadapi operasi, meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki pasien mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang akan dialami pasien.
2)    Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi sesuai dengan tingkat perkembangan. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Misalnya: jika pasien harus puasa, perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan samapai kapan, manfaatnya untuk apa, dan jika diambil darahnya, pasien perlu diberikan penjelasan tujuan dari pemeriksaan darah yang dilakukan, dll. Diharapkan dengan pemberian informasi yang lengkap, kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan baik
3)    Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersama-sama sebelum pasien di antar ke kamar operasi.
4)    Mengoreksi pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien.
5)    Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi, seperti valium dan diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA
1.    Ayub Sani Ibrahim (2003), Panik Neurosis dan Gangguan Cemas, Jakarta : PT. Dua  As – As
2.    Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi 2010 . Jakarta: PT Rineka Cipta
3.    Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi VI. Jakarta: PT Rineka Cipta
4.    Anggraini,(2011).Laporan Pendahuluan pada Post SC.http://anggreniniluhputu.blogspot.com diakses tanggal 19 ‎Januari ‎2012 Jam 20.18
5.    Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah I, Bandung : Yayasan IKAPI
6.    Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
7.    Gunawan,(2011).Konsep Kecemasan.http://teorikecemasan.blogspot.com/ diakses tanggal 27 desember 2011 Jam 16.00 WIB
8.    Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007).  Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika
9.    Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007).  Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika
10. Hawari, Dadang. 2008. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Penerbit FK Universitas Indonesia.
11. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
12. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
13. Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan Edisi 3. Jakarta : Slemba Medika
14. Perry, Poter, 2006. Buku Saku Ketrampilan Dan Prosedur Dasar.Jakarta:Rineka Cipta
15. Rondhianto,(2008).KeperawatanPerioperatif.http://athearobiansyah.blogspot.comdiakses tanggal 03 ‎Oktober ‎2011 Jam ‏‎18:20:51
16. Sarwono, Prawiroharjo,. 2005. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4. Jakarta : PT Gramedi
17. Smeltzer & Bare, 1997, Keperawatan Medikal Bedah. Edisi VIII. Jakarta: EGC.
18. Stuart, Gail W. 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit EGC.
19. Suparyanto, 2011. Konsep Cemas. http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/03/ konsep-cemas.html (Diakses 17 Februaari 2012).
20. Stuart & Sundeen, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Pocket Guide to Psyciatric Nursing). Edisi 3, Alih bahasa; Achir Yani S Hamid, Jakarta:EGC.
21. Suliswati, (2005). Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Di Ruang Kenanga BRSU Dr. H. Soewondo Kendal
22. Syamsu Yusuf & Juntika Nurihsan. 2011. Teori Kepribadian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
23. Tahsinul,(2008).Kepribadian.http://tahsinul.wordpress.com  diakses tanggal ‎28 ‎Oktober ‎2011 Jam ‏‎10:12:50


{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment